Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

NATO: Jika Rusia Menang di Ukraina, Negara Lain Mungkin Jadi Target Berikutnya

Jumat 05 Aug 2022 14:42 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg berbicara dalam pertemuan luar biasa NATO di Brussels, Kamis (24/3/2022).

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg berbicara dalam pertemuan luar biasa NATO di Brussels, Kamis (24/3/2022).

Foto: AP Photo/Thibault Camus
Negara-negara NATO membayar harga untuk dukungan ke Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Kepala aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg memperingatkan pada Kamis (4/8/2022), bahwa jika Rusia menang di Ukraina, negara itu dapat melanjutkan perang di negara-negara tetangga. Dunia dinilai bisa menjadi lebih berbahaya jika Presiden Rusia Vladimir Putin mendapatkan yang diinginkan dengan menggunakan kekuatan militer.

"Jika Rusia memenangkan perang ini, dia akan mendapat konfirmasi bahwa kekerasan berhasil. Kemudian negara tetangga lainnya mungkin akan menyusul,” ujar Stoltenberg dikutip dari Anadolu Agency.

Baca Juga

Menurut Stoltenberg, tanggung jawab moral untuk mendukung Ukraina dalam perjuangannya melawan invasi Rusia. "Kepentingan kita sendiri bahwa Presiden (Vladimir) Putin tidak berhasil dalam ambisinya di Ukraina," kata Stoltenberg pada kamp musim panas Liga Pekerja Pemuda Norwegia di pulau Utoya.

Stoltenberg juga menolak klaim Rusia tentang sikap NATO yang agresif dan ekspansif. Dia menjelaskan bahwa anggotanya adalah negara-negara demokratis yang bebas yang telah memilih untuk bergabung dengan aliansi tersebut.

Pemimpin NATO itu mengakui negara-negara NATO membayar harga untuk dukungan ke Ukraina. Namun, dia menekankan bahwa kontribusi dalam pengeluaran militer atau inflasi yang lebih tinggi hanya dibayar dengan uang saja.

“Harga yang dibayar Ukraina diukur dalam kehidupan manusia,” katanya menyebut perang Rusia sebagai perang gesekan yang brutal dan berdarah.

“Dunia yang lebih berbahaya berarti kita harus berinvestasi lebih banyak dalam pertahanan, untuk menjaga perdamaian,” ujar Stoltenberg.

Para pemimpin NATO menyetujui perombakan terbesar pertahanan dan pencegahan kolektif NATO sejak Perang Dingin pada Juni. Reformasi tersebut mencakup model penyebaran bar  dengan pasukan yang dialokasikan sebelumnya untuk membela negara-negara NATO tertentu. Sebanyak 300.000 tentara dengan kesiapan tinggi dan lebih banyak peralatan serta persediaan senjata yang telah ditempatkan sebelumnya di sisi timur.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA