Senin 25 Jul 2022 22:15 WIB

Hubungan Homoseksual Diduga Pemicu Utama Penyebaran Monkeypox

Sebagian besar individu terinfeksi monkeypox atau cacar monyet memang homoseksual.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Cacar monyet atau monkeypox. Ilustrasi
Foto: Pixabay
Cacar monyet atau monkeypox. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sebuah riset yang diterbitkan di New England Journal of Medicine mengungkapkan, hubungan seks antara sesama laki-laki menjadi pemicu utama penyebaran dan peningkatan kasus monkeypox atau cacar monyet di dunia. Dari 16 ribu kasus yang sudah dikonfirmasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar individu terinfeksi memang homoseksual.

Dalam studi terbaru, konsorsium sejumlah peneliti mengumpulkan data pada 528 kasus cacar monyet yang didiagnosis antara 27 April dan 24 Juni di 43 lokasi di 16 negara. Kasus-kasus itu termasuk 84 orang (16 persen) di Amerika dan 444 orang (84 persen) di Eropa, Israel, dan Australia.

Baca Juga

Semua kasus yang diteliti terjadi pada laki-laki, termasuk seorang transgender. Sebanyak 98 persen lelaki tersebut diidentifikasi sebagai gay atau biseksual. Rentang usia mereka antara 18-68 tahun. Namun rata-ratanya berumur 38 tahun. Tiga perempatnya adalah berkulit putih dan 41 persen dari mereka mengidap HIV.

Dalam riset tersebut, para peneliti melaporkan bahwa 95 persen kasus cacar monyet kemungkinan ditularkan melalui kontak dekat secara seksual. Mereka pun menawarkan bukti baru yang kuat bahwa seks anal, meskipun belum tentu ejakulasi, adalah sumber utama penularan.

"Kemungkinan kuat penularan seksual didukung oleh temuan lesi mukosa genital, anal, dan oral primer, yang mungkin mewakili tempat inokulasi," tulis para peneliti dalam laporannya, dilaporkan laman NBC News.

Pakar penyakit menular dari Weill Cornell Medicine, Dr Jay K. Varma, mengungkapkan, temuan bahwa 95 persen kasus cacar monyet mungkin ditularkan saat berhubungan seks memberi kepastian bahwa wabah itu disebabkan kontak yang sangat dekat. "Itu menjelaskan mengapa sejauh ini sebagian besar (penyakit) terbatas pada jaringan sosial padat pria yang berhubungan seks dengan pria," ucapnya.

Pendapat serupa disampaikan epidemiolog dari Brown University, Jennifer Nuzzo. "Data ini menunjukkan dengan jelas fakta bahwa infeksi sejauh ini hampir secara eksklusif terjadi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria. Presentasi klinis dari infeksi ini menunjukkan bahwa penularan seksual, bukan hanya kontak fisik yang dekat, dapat membantu menyebarkan virus di antara populasi ini," kata Nuzzo mengomentari riset yang dimuat di New England Journal of Medicine.

Nuzzo tidak terlibat langsung dalam penelitian tersebut. Namun dia mengatakan, studi multinegara yang besar itu memberikan kumpulan data klinis dan demografis terlengkap tentang kasus cacar monyet.

Bagi kebanyakan orang, penyakit cacar monyet relatif ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi medis. Namun penelitian terbaru menyebut, cacar monyet dapat menyebabkan rasa sakit hebat. Oleh sebab itu, individu terinfeksi memerlukan rawat inap.

"Kami telah melihat pasien dengan nyeri dubur parah yang memburuk setiap kali mereka pergi ke kamar mandi, nyeri genital setiap kali mereka buang air kecil, dan sakit tenggorokan setiap kali mereia menelan," ucap Dr. Jason Zucker, spesialis penyakir menular di Columbia University Departement of Medicine.

Sebelumnya para epidemiolog meyakini penyebaran cacar monyet di Eropa mulai terjadi pasca festival gay dan biseksual yang berlangsung pada pertengahan musim semi. Saat ini spesialis penyakit menular sedang mengembangkan pemahaman presisi tentang saluran utama penularan cacar monyet, serta pola perjalanan penyakit.

Pada Sabtu (23/7) pekan lalu, WHO menetapkan cacar monyet sebagai darurat kesehatan global. WHO telah mengonfirmasi setidaknya 16 ribu kasus di lebih dari 75 negara.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement