Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Dua Pakar Covid-19 Anjurkan Ini di Tengah Penyebaran Subvarian BA.5

Jumat 15 Jul 2022 02:30 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Covid-19 (ilustrasi). Peningkatan kasus Covid-19 di beberapa negara tampak dipengaruhi oleh kemunculan subvarian omiron BA.5.

Covid-19 (ilustrasi). Peningkatan kasus Covid-19 di beberapa negara tampak dipengaruhi oleh kemunculan subvarian omiron BA.5.

Foto: www.pixabay.com
Subvarian BA.5 sedang mendominasi di banyak negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa negara sempat melonggarkan aturan terkait penggunaan masker di ruang terbuka. Namun, melihat kasus Covid-19 yang semakin meningkat, para ahli mengimbau masyarakat untuk kembali menggunakan masker meski sedang berada di luar ruangan.

Salah satu negara yang mengalami peningkatan kasus Covid-19 saat ini adalah Amerika Serikat. Peningkatan kasus Covid-19 di negara tersebut tampak dipengaruhi oleh kemunculan subvarian omiron BA.5. Profesor Trevor Bedford dari Biostatistics, Bioinformatics and Epidemiology Program di Fred Hutchinson Cancer Center bahkan memprediksi bahwa BA.5 akan menginfeksi sekitar 10-15 persen warga Amerika dalam waktu beberapa bulan ke depan.

Baca Juga

"Gunakan masker ketika ada banyak (kasus) Covid-19 di komunitas Anda," jelas Centers for Disease Control and Prevention (CDC), seperti dilansir Insider, Kamis (14/7/2022).

Menurut Dr John Swartzberg dari Berkeley Public Health, risiko transmisi BA.5 tak hanya besar di dalam ruangan, tetapi juga di luar ruangan. Oleh karena itu, Dr Swartzberg menilai penggunaan masker penting untuk kembali digalakkan, terutama dalam beberapa kondisi. Misalnya saat berada di keramaian yang membuat orang-orang sulit untuk menjaga jarak fisik dari orang lain, dan bila berada dekat dengan orang yang berbicara lantang atau sedang bernyanyi.

"(Pada kondisi tersebut) saya akan membawa masker dan menggunakannya bila saya merasa tak nyaman," kata Dr Swartzberg.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr Maimuna Majumder dari Boston Children's Hospital. Dr Majumder mengungkapkan ruang terbuka kerap dianggap lebih aman dibandingkan ruang tertutup. Akan tetapi, keramaian di ruang terbuka akan membuat orang-orang berdekatan dan berbagi udara yang sama antara satu sama lain, sehingga risiko penularan tetap perlu diwaspadai.

"Tujuan kita adalah mengurangi berbagi udara, namun bila harus berbagi udara (dalam jarak dekat), udara harus disaring, dan masker berkualitas tinggi meruapkan cara yang baik untuk mencapainya (penyaringan udara)," ujar dr Majumder.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA