Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Pelajaran Berharga dari Runtuhnya Kekuatan Islam di Andalusia 

Rabu 13 Jul 2022 20:31 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Taman di Alhambra di Andalusia, Spanyol. Kekuatan Islam di Andalusia runtuh karena persoalan internal umat

Taman di Alhambra di Andalusia, Spanyol. Kekuatan Islam di Andalusia runtuh karena persoalan internal umat

Foto: muslimheritage.com
Kekuatan Islam di Andalusia runtuh karena persoalan internal umat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mempelajari sejarah bukanlah untuk menghafalkan deret nama dan tanggal. Histori berguna agar manusia tidak mengulangi kesalahan-kesalahan (yang serupa) yang pernah terjadi pada masa lalu. 

Prof Raghib as- Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) mengatakan, ada berbagai hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari fenomena tumbangnya kedaulatan Bani Umayyah di Andalusia. 

Baca Juga

Pertama, lemahnya watak seorang pemimpin. Pada pengujung abad ke-10, para khalifah tidak lebih berkuasa dibandingkan perdana menterinya. Keadaan tidak akan buruk selama si menteri menghormati raja walaupun atasannya itu berusia masih remaja atau bahkan kanakkanak.

Umpamanya, pada saat Muhammad al-Manshur (Almanzor) bin Abi Amir dan al-Muzhaffar menjadi wazir, sedangkan Hisyam II sebagai khalifah. 

 

Kondisi yang sebaliknya terjadi kalau perdana menteri tidak memedulikan rajanya. Maka khalifah bukan hanya ke hi langan wibawa, melainkan juga tidak berguna. Akan lebih buruk bagi rakyat bila si wazir tidak kompeten dalam menakho dai negeri.

Itulah yang mengemuka saat Abdurrahman Sanchol naik sebagai alhajib. As-Sirjani mengingatkan pembaca pada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. Maka apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.  Jika sebuah urusan disandarkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancuran. 

Kedua, sejarawan itu menyoroti, Daulah Umayyah yang berpusat di Kordoba kian tergelincir pada gaya hidup boros. Para pejabatnya gemar bermewahmewahan. Kas negara tersedot untuk melayani kemauan penguasa yang kadang kala di luar nalar. Menurut as-Sirjani, istana Madinat az-Zahra dapat menjadi contohnya.

Dengan keluasan dan kemegahannya itu, dari dalam (interior) dia dibuat dari emas. Bahkan, atapnya dibuat dari campuran emas dan perak, tulisnya. Bisa saja, jumlah rakyat yang mampu lebih banyak daripada yang papa. Akan tetapi, hal itu tetap tidak bisa dijadikan pembenaran. 

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam hal harta benda. Kekayaan cenderung menyilaukan membuat lalai manusia terhadap hal-hal yang lebih esensial. Dalam kaitannya dengan sejarah Andalusia, perkara pokok itu adalah persatuan (ukhuwah).   

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA