Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Memaafkan Saat Mampu Membalas, Itulah Akhlak Muslim

Senin 24 Jun 2019 17:11 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Bersalaman saling memaafkan di hari Idul Fitri. (ilustrasi)

Bersalaman saling memaafkan di hari Idul Fitri. (ilustrasi)

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Akhlak muslim untuk mudah memaafkan dicontohkan di Surat Yusuf yang berisi 111 ayat

Pernahkah kita merasa telah banyak disakiti oleh seseorang atau bahkan oleh saudara kita sendiri? Mampukah kita memaafkan kesalahan mereka yang pernah menyakiti atas semua kezaliman yang sedemikian rupa?  

Dapatkah kita memaafkan kesalahannya tanpa ada sedikitpun rasa dendam dalam hati kita, lalu setelah itu kita tetap bersahabat dan bersaudara secara baik dengan mereka?

Tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi orang yang pemaaf akan terasa amat sangat berat bagi sebagian orang. Terkadang kita akan selalu mengingat kesalahan yang mungkin tak seberapa hingga kita sulit untuk  memaafkannya.

Karena kesalahan yang tak banyak itu kita pun bisa lupa akan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuatnya. Bahkan tak jarang dendam menyelimuti hati, susah untuk bisa kembali bersahabat sebagaimana sebelumnya.

Jikapun sudah memaafkan, kita kerap kali mengingat, mengungkit dan membincangkan kesalahannya. Padahal semestinya memaafkan adalah menghapus kesalahan itu tanpa pernah lagi mengingat dan mengungkitnya.

Al-Qur’an, melalui kisah Nabi Yusuf dalam surat Yusuf yang berisi 111 ayat, dimana keseluruhan ayatnya berkisah tentang nabi Yusuf semasa kecil hingga dewasanya. Penuh penderitaan, kesakitan, dan kesedihan yang tak lain dilakukan oleh saudaranya sendiri, orang-orang terdekatnya.

Namun di akhir kisah, Nabi Yusuf mengajarkan bagaimana semestinya seseorang memberikan maaf kepada orang yang telah menyakitinya dan kemudian kembali bersahabat dan bersaudara sebagaimana mestinya. Sebagaimana telah dipahami bersama bahwa Nabi Yusuf As adalah korban kezaliman luar biasa yang dilakukan oleh saudara-saudara kandungnya sendiri karena merasa tidak diperlakukan sama baiknya oleh orang tua.

Mereka dengan sengaja bermaksud menyingkirkan Yusuf dengan memasukkannya ke dalam sumur. Sebelumnya bahkan mereka menyiksa Yusuf terlebih dahulu dan tak menghiraukan permintaan tolongnya.

Perjalanan kehidupan berikutnya dilalui oleh Yusuf dengan berbagai cobaan yang tak ringan. Ia sempat menjadi budak yang diperjualbelikan di pasar budak hingga dipenjara atas tuduhan tindakan tak bermoral yang tak pernah ia lakukan.

Tiba masa Nabi Yusuf menjadi seorang pejabat penting di Mesir. Ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar di negerinya. Ia menentukan banyak kebijakan publik bagi bangsanya. Dan pada saat posisinya yang begitu kuat ini Allah menunjukkan kemuliaan dan kebesaran hati Nabi Yusuf. 

Saudara-saudara Nabi Yusuf yang dulu telah membuangnya beberapa kali datang ke Mesir untuk satu keperluan kebutuhan hidup. Mereka diterima langsung oleh Nabi Yusuf namun tak mengenalinya karena menyangka Yusuf telah meninggal di dasar sumur itu.

Pada akhirnya mereka mengenali bahwa pejabat negara yang selama ini mereka datangi dan membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka adalah orang yang dahulu pernah mereka singkirkan secara aniaya. Kini mereka telah mengetahui dan mengakui bahwa Allah lebih memberikan kemuliaan kepada Yusuf dari pada kepada mereka. Yusuf telah menjadi orang penting, terpandang dan mulia. Dan kini di hadapan Nabi Yusuf mereka mengakui kesalahan dan dosa-dosanya.

Sebagai seorang pejabat yang memiliki kekuasaan dan sangat berpengaruh pada saat itu semestinya Nabi Yusuf memiliki kesempatan dan kemampuan untuk membalas dan memberikan hukuman yang berat bagi saudara-saudaranya. Saat itu bisa saja Nabi Yusuf membalas dendam atas apa yang dilakukan oleh mereka kepadanya.

Namun itu semuanya tak dilakukan olehnya. Pada saat seperti itu kemuliaan akhlaknya justru menuntunnya untuk berbesar dan berlapang hati mengucapkan satu kalimat:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ

Artinya: “Tak ada celaan bagi kalian di hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.” (QS. Yusuf: 92)

Imam al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi dalam tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl (2016:500) menuliskan penafsiran kalimat itu dengan “tak ada kecaman bagi kalian pada hari ini dan aku tidak akan menyebut-nyebut dosa kalian setelah hari ini.” Sementara Az-Zujaj sebagaimana dikutip Al-Qurtubi dalam Al-Jâmi li Ahkâmil Qur’ân (2010, V:232) menafsirkan “tak ada perusakan terhadap kehormatan dan persaudaraan di antara aku dan kalian”.

Lalu Nabi Yusuf tidak saja memaafkan para saudaranya dan membebaskan mereka dari celaan dan kecaman di kehidupan dunia ini, namun dengan kalimat “semoga Allah mengampuni kalian” Nabi Yusuf juga menginginkan mereka diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya sehingga kelak di akhirat pun mereka terbebas dari siksaan.

Tidak sekadar itu, pada ayat berikutnya Nabi Yusuf juga meminta para saudaranya untuk kembali lagi datang ke Mesir dengan membawa serta semua anggota keluarga besar mereka; istri dan anak-anak mereka.

Inilah pemberian maaf yang sesungguhnya yang diajarkan Al-Qur’an melalui kisah Nabi Yusuf. 

Hal serupa juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau dengan kaum muslimin menaklukan Kota Makkah. Ketika beliau memegang kedua tiang pintu Ka’bah lalu berseru dan bertanya kepada kaum Quraisy, “Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan pada kalian, wahai kaum Quraisy?”

Mereka menjawab, “Engkau akan lakukan kebaikan kepada kami. Engkau saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia. Dan engkau telah mampu melakukan itu.”

Rasulullah menimpali, “Pada hari ini akan aku katakan apa yang dikatakan oleh saudaraku Yusuf, lâ tatsrîba ‘alaikumul yauma, di hari ini tak ada kecaman bagi kalian.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu sahabat Umar bin Khattab merasa sangat malu sekali hingga mengucur keringatnya. Ini dikarenakan sebelumnya ia sangat ingin sekali membalas apa-apa yang telah dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada kaum muslimin, namun ternyata Rasulullah menyatakan sikap yang begitu mulia, memaafkan tanpa ada dendam.

Dari kedua kisah Nabi Allah yang mulia itu kita bisa belajar bahwa sesungguhnya puncak dari permaafan adalah memaafkan dengan penuh ketulusan tanpa dendam disaat kita mampu membalas. Wallahu a'lam bish Shawab.

Pengirim: Widya Fauzi (Pengajar, Penulis tulisan motivasi juga Founder Bandung Storytellingclub dan Komunitas Muslimah Menjahit).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA