Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Formalin dan Larangan Membahayakan Konsumen dalam Islam

Senin 20 May 2019 12:55 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petugas BPOM memeriksa sampel makanan dan minuman mengantisipasi zat berbahaya seperti Formalin, Borak, Rodamin B yang terkandung dalam jajananan makanan dan minuman.

Petugas BPOM memeriksa sampel makanan dan minuman mengantisipasi zat berbahaya seperti Formalin, Borak, Rodamin B yang terkandung dalam jajananan makanan dan minuman.

Foto: Antara
Islam melarang berdagang secara batil dan membahayakan pembeli dalam An-Nisaa ayat 29

 

Ada-ada saja ulah oknum pedagang makanan atau minuman yang tak bertanggung jawab agar mereka tak merugi. Salah satunya ialah dengan memberikan bahan pengawet dari unsur kimia berbahaya. Formalin merupakan zat kimia yang sering dipergunakan untuk mengawetkan makanan.

Hal ini terjadi ketika tim pemantau bahan makanan berbahaya, kadaluwarsa dan harga pangan Kabupaten Cirebon, dikutip dari Radar Cirebon, menemukan sejumlah makanan mengandung borax, rhodamin atau formalin di sejumlah pasar tradisional.

Ramadhan adalah saat di mana daya konsumsi tinggi. Umat banyak belanja. Maka dipilihlah bahan yang murah demi penghematan. Oleh sebab itu harus hati-hati. Sebab murah, belum tentu bersih dan hygienis.

Bahan makanan seperti mi basah, tahu, baso, ikan asin, ikan segar, bahkan buah dan sayur, terindikasi mengandung zat berbahaya tersebut. Penampakannya, akan terlihat kenyal, lebih segar, tidak mudah basi dan lalat enggan menempel. 

Ini sangat memprihatinkan. Formalin bukan untuk tubuh. Ia diperuntukkan sebagai bahan dasar pembersih lantai, gudang, pakaian, dan kapal. Formalin juga digunakan untuk membuat zat pewarna, cermin kaca, dan bahan peledak.

Jika dimasukkan dalam makanan, akan berbahaya bagi kesehatan. Bisa berdampak pada organ interna, seperti ginjal, jantung, pencernaan, otak dan lain sebagainya. Maka akan muncul berbagai penyakit berbahaya.

Dalam Islam, salah satu tujuan pokok dari syari’at adalah menjaga jiwa (hifz al-nafs), maka Islam menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan mencegah setiap penggunaan bahan yang membahayakan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيما

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(QS. An-Nisaa [4]: 29)

Menjual bahan makanan  dengan menambahkan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh agar tampak segar dan awet adalah bentuk penipuan. 

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِيناً

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata “ (QS. Al-Ahzab : 58).

Oleh sebab itu diperlukan edukasi yang terus menerus kepada pedagang, untuk berhenti melakukan kejahatan. Prinsip ekonomi bahwa dengan modal serendah-rendahnya untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya terbukti menyesatkan. Pedagang harus memiliki ketakwaan yang tinggi. Untuk membentengi perbuatan, dengan asas takut kepada Allah.

Pengirim: Lulu Nugroho, Muslimah  Penulis dari Cirebon

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA