Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Hari Buku Nasional, Yuk Baca Buku

Senin 20 Mei 2019 11:41 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sejumlah anak membaca buku di perpustakaan keliling pada acara Festival Literasi 2019 di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (20/4)

Sejumlah anak membaca buku di perpustakaan keliling pada acara Festival Literasi 2019 di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (20/4)

Foto: Abdan Syakura
Minat baca buku di Indonesia hanya 18 ribu judul kalah jauh dari Cina yang 140 ribu

Tidak banyak yang tahu bahwa Jumat pekan lalu, 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Di awal penentuan tanggal 17 Mei menjadi Hari Buku Nasional, Menteri Pendidikan ingin meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Ide itu dicetuskan tahun 2002 oleh Abdul Malik Fajar, Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong Bersama. Beliau melihat fakta bahwa minat baca di Indonesia pada saat itu masih sangat rendah dibandingkan dengan Tiongkok. 

Minat baca masyarakat Indonesia rata-rata hanya 18 ribu judul buku per tahun, sedangkan minat baca masyarakat Tiongkok rata-rata 140 ribu judul buku per tahun. Sangat mengenaskan. Di samping itu, 17 Mei juga bertepatan dengan peringatan pendirian gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau Perpusnas. Perpusnas didirikan pada 17 Mei 1980 di Jakarta.

Baca Juga

Sayang sekali, padahal ilmu dapat disampaikan selain dengan lisan adalah melalui buku. Indonesia dengan jumlah muslim terbesar di dunia, harus kembali pada firman Allah dalam Alquran surat Mujadillah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. 

Buku pernah menjadi benda yang tak berharga. Yaitu ketika Baghdad, ibu kota Abbasiyah dikepung pasukan Ilkhanate dan sekutunya yang tergabung dalam Hulagu. Tahun 1258 Hulagu Khan meluluhlantakkan Baghdad setelah hampir 6 abad dinasti Abbasiyah berkuasa. Baghdad dihancurkan, perpustakaan-perpustakaan dibakar. Termasuk Bait al-Hikmah. 

Pasukan Ilkhanate membuang buku-buku berharga tulisan para ahli ke Sungai Tigris. Sungai menjadi hitam karena tinta. Ilmu dibuang begitu saja. Pasukan bodoh tidak menghargai ilmu. Bahkan ada yang mengatakan Pasukan Tatar menyeberangi sungai di atas jilid-jilid buku yang besar dari tepi sungai ke tepi yang lain. Ini puncak kejahatan yang melanggar hak kemanusiaan.

Philip K. Hitti dalam bukunya 'Capital Cities of Arab Islam' menyebut Baghdad sebagai kota intelektual. Sebab, dari kota inilah lahir banyak intelektual muslim yang mengembangkan ilmu pengetahuan, kedokteran, kimia, fisika, biologi, matematika, astronomi, astrologi, farmakologi, geografi, filsafat, sastra, seni, tafsir, hadits, fiqih, theologi, bahasa dan tasawwuf. 

Sejak awal dakwah, Islam menghargai ilmu. Terutama jika itu berkaitan dengan akidah. Semakin berilmu seseorang, semakin kuat akidahnya, semakin takut ia pada Allah Subhaanahu wa ta'ala. Manusia berilmu akan dinaikkan derajatnya oleh Allah. Itu sebabnya kita harus berilmu. Menuntut ilmu wajib bagi umat Islam. Maka pilihlah ilmu yang membuat kita semakin cinta Islam, cinta perjuangan penegakan agama Allah. 

Yuk baca buku. Buku adalah jendela ilmu. Sebagaimana kebiasaan umat-umat terdahulu. Di sepanjang masa, umat Islam selalu berilmu. Itu sebabnya ia disebut sebagai 'khoiru ummah'. Islam akan menguasai peradaban dunia, jika kita membaca dan menuntut ilmu. Dengan itu, kebangkitan umat akan segera terwujud.

“Katakanlah :”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (QS.Az.Zumar:9).

Pengirim: Lulu Nugroho, muslimah penulis asal Cirebon

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA