Selasa, 16 Ramadhan 1440 / 21 Mei 2019

Selasa, 16 Ramadhan 1440 / 21 Mei 2019

Berprakarya Sebagai Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Rabu 24 Apr 2019 18:05 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang anak penderita autisme merangkai manik-manik untuk di jadikan gelang pada kampanye kegiatan Hari Peduli Autis Internasional di Anjungan Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (2/4).

Seorang anak penderita autisme merangkai manik-manik untuk di jadikan gelang pada kampanye kegiatan Hari Peduli Autis Internasional di Anjungan Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (2/4).

Foto: Antara/Dewi Fajriani
Berprakarya merupakan occupational therapy bagi anak berkubutuhan khusus

Wajah gembil menggemaskan itu kutemukan di antara riang tawa anak-anak salah satu Sekolah Dasar di Bandung. Hari itu, penulis sebagai pengajar, mulai membagikan alat dan bahan untuk membuat prakarya berupa anyaman kain flanel. 

Obrolan pun terjadi. 

Baca Juga

"Bahan punyaku mana bu?" tanyanya.

"Ini nak" kusodorkan sebuah kertas dengan beberapa helai kain flanel yang belum teranyam. 

"Ini bagaimana bu?" tanyanya sekali lagi. 

"Begini nak, kemudian begini, yuk dicoba," saya pun memberi petunjuk-petunjuk untuk mulai menganyam tiap helai dari kain flanel tersebut sehingga menjadi sebuah kain dengan motif baru dan berbeda. 

Dia tampak sangat senang dalam menyelesaikan prakarya. Ditunjukkannya padaku,  ekspresinya senang saat prakaryanya selesai. 

Dia bernama Afkar atau Atan nama panggilannya. Dia adalah anak yang spesial. Anak yang ceria dan kooperatif di kelasku. Namun, suka menangis dan terlihat cuek di mata pelajaran yang bersifat analisis.  

Hal itu membuatku penasaran dan bertanya-tanya, mengapa bisa demikian? Semakin penasaran kala mendapat flyer salah satu sekolah swasta favorite di Bandung yang  membuka lowongan pekerjaan untuk sewing skill's teacher for special need kids. Kemudian, setelah berselancar di dunia maya dan berbagai teks literatur akhirnya saya pun bertemu dengan occupational therapy

Occupational Therapy berasal dari kata occupational yang artinya aktivitas, dan therapy berarti penyembuhan atau pemulihan, sehingga occupational therapy adalah proses penyembuhan melalui aktivitas. Aktivitas yang dikerjakan tidak hanya sekadar membuat sibuk pasien, melainkan aktivitas fungsional yang mengandung efek terapetik dan bermanfaat bagi pasien. Bisa disebut pula aktivitas yang langsung diaplikasikan dalam kehidupan.

Dalam memberikan pelayanan kepada individu, Okupasi Terapi memperhatikan aset (kemampuan/potensi) dan limitasi (keterbatasan/“kecacatan”) yang dimiliki individu. Terapi ini memberikan aktivitas yang purposeful (bertujuan), meaningful (bermakna), dan disenangi, misal: hobi agar pasien merasa senang dan nyaman. Harapannya individu tersebut dapat mencapai kemandirian dalam aktivitas produktivitas/pekerjaan atau pendidikan (seperti bekerja), kemampuan perawatan diri/selfcare (seperti: menyikat gigi, mandi, BAB/BAK, dll) dan kemampuan penggunaan waktu luang/leisure (melakukan hobi seperti berkebun, menjahit, menyulam, dll).

Lalu, kondisi apa saja yang bisa ditangani oleh Okupasi Terapis?

Pasien yang bisa dirujuk ke Okupasi Terapis tidak terbatas pada tahap perkembangan tertentu, melainkan semua umur bisa dirujuk untuk mendapatkan penanganan Okupasi Terapi. Sebagai contoh: pasien anak-anak. Banyak anak yang sejak kecil sudah mengalami kelainan atau gangguan perilaku/perkembangan. Sebagai contoh: autisme, spektrum autis, ADHD (attention deficit hyperactive disorder), ADD (attention deficit disorder), DD (delay development/keterlambatan perkembangan), asperger syndrome, down syndrome, mental retardasi (keterbelakangan mental), CP (cerebral palsy), dan sebagainya.

Itu semua adalah sebagian besar dari kondisi anak yang bisa ditangani oleh Okupasi Terapis karena hampir semua anak autis mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Seorang Okupasi Terapis juga mampu merancang alat bantu, memodifikasi alat atau lingkungan untuk memudahkan pasien melakukan aktivitas sehari-harinya. 

Ternyata, kegiatan berprakarya seperti menganyam, menyulam, menjahit, menulis yang notabene adalah bahan ajar penulis selama ini bisa dijadikan sebagai terapi okupasi. Pantas saja siswa special needs saya Atan, senang sekali berprakarya. Dan untuk anak berkebutuhan khusus kegiatan ini sangat diperlukan untuk melatih motorik halusnya. 

Namun, yang perlu dipahami adalah tidak ada sesuatu yang instant di dunia ini. Segala sesuatunya membutuhkan proses, sama halnya dengan setiap penanganan atau treatment yang dilakukan, membutuhkan proses yang relatif lama.

Karena di dalam individu yang mengalami gangguan baik fisik maupun mental tersebut terdapat “komponen” yang tidak berfungsi baik sebagaimana mestinya sehingga perlu diperbaiki. Sering kali aku tak mengerti apa maksud dan keinginanmu, tetapi pelukanku akan selalu ada untukmu. Happy World Autism Awareness Day 2 April.

Pengirim: Widya, Pengajar, Founder Komunitas Menjahit & Bandung Storytellingclub. 

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA