Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Ke Mana Sebenarnya Arah Pendidikan Kita di Era E-Sport?

Selasa 23 Apr 2019 09:24 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang anggota komunitas digital bermain games usai pembukaan Esports Center di The Breeze Serpong, Tangerang, Banten, Jumat (12/4/2019).

Seorang anggota komunitas digital bermain games usai pembukaan Esports Center di The Breeze Serpong, Tangerang, Banten, Jumat (12/4/2019).

Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Kemana sebenarnya arah pendidikan, generasi berkualitas atau kepentingan industri

REPUBLIKA.CO.ID, E-Sport (Olahraga elektronik) turut dibahas dalam Debat Capres-Cawapres putaran terakhir. Olahraga elektronik menjadi permainan yang banyak diminati terutama kalangan remaja. eSports, memang berangkat dari dunia gaming. 

Dalam debat bertema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, perdagangan, dan industri ini, capres nomor urut 01 menanyakan pada penantangnya soal pengembangan e-sports seperti Mobile Legends, PUBG dan sejenisnya.

Baca Juga

Kemajuan suatu teknologi sangat berkembang pesat di dunia yang global ini, permainan elektronik atau yang kita sering sebut dengan game online sudah menjamur dimana-mana. 

Ambisi industri berdasarkan pada tren gim, khususnya mobile, yang sedang menjadi perhatian besar sejumlah masyarakat.  Mengingat E-Sport akan di masukan kedalam kurikulum sekolah tentu kurang tepat. Selain menimbulkan efek ketagihan juga ada dampak negatif lainnya lebih banyak ketimbang positifnya. Didalamnya juga banyak unsur permainan berbentuk kekerasan. Tentu ini berbahaya dan menjadikan sebagai alat manipulasi barat dalam mengancurkan generasi bangsa. 

Di indonesia gim untuk meraup keuntungan materi kepada segelintir orang saja. Jadi sangat wajar dalam sistem kapitalistik terjadi hal ini karena tolak ukur nya adalah asas manfaat atau  untung rugi. Tak hanya untuk sekedar refreshing namun aplikasi gim telah menjadi sebuah bisnis industri yang sangat besar.

Demikianlah dalam sistem pendidikan saat ini hanya mencetak generasi rusak dan bobrok. Makanya adanya peran keluarga, lingkungan juga negara berperan penting dalam mencetak generasi bangsa. Seharusnya pemerintah memberikan pendidikan yang benar yaitu Akidah Islam yang akan melahirkan generasi yang berkualitas. 

Pengirim: Susilawati, Kota Banjar

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA