Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Satu Tertangkap, Lahir Kembali Seribu Koruptor

Selasa 26 Mar 2019 10:04 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Koruptor (ilustrasi)

Koruptor (ilustrasi)

Foto: Dok Republika.co.id
Korupsi menjadi persoalan rumit yang susah diberantas

Demi jabatan mereka menggadaikan moralitasnya. Idealisme seorang  pemimpin/pejabat seharusnya memikirkan rakyat. Mengurus kebutuhannya, seperti pangan, sandang dan papan . 

Baca Juga

Memikirkan pula mekanisme distribusi hingga sampai ke tangan individu. Harga murah dan terjangkau tentu sangat disukai rakyat. Begitupun dengan dunia pendidikan, kesehatan dan keamanan. Namun apa lacur? Hari ini hampir semua pejabat hanya mementingkan diri sendiri. Sumpah jabatan dan janji manis kampanye hanya isapan jembol belaka.

Korupsi menjadi persoalan rumit yang susah diberantas. KPK melakukan OTT, satu tertangkap,  seribu koruptor muncul seperti jamur dimusim hujan. Rompi oranye tak membuat para koruptor memiliki rasa malu, justru bangga bak selebritis melakukan meet and greet bersama penggemar. 

Lantas kepada siapa rakyat harus memyampaikan masalah? Sebenarnya mereka mampu atau tidak menjalankan amanah rakyat? Jika pada kenyataannya pejabat berlomba-lomba masuk dalam kubangan lumpur korupsi.

Negeri ini berada dalam masalah. Korupsi merajalela hampir diseluruh bidang aparatur negara. Negeri Muslim terbesar ini tidak menampakkan akhlaq Islami. Ia justru menjadi sarang maling. Siapa yang patut dipersalahkan,  dengan menjamurnya kasus korupsi? Kepala Negara atau Sistem yang digunakan?

Sebuah ilustrasi tentang rusaknya sebuah sistem bisa diibaratkan,  pembalap handal diminta menjadi driver mobil rusak. Mobil bukannya  melaju kencang, namun selalu mogok bahkan bisa saja terjungkir masuk jurang. Begitu pun seorang pemimpin handal berada di sistem rusak maka akan ikut rusak pula.

Komunis, Kapitalis-Demokrasi adalah contoh dari sistem-sistem buatan manusia. Sistem yang terbukti telah gagal dalam penerapannya selama kurun waktu hampir seabad. Sudah sepatutnya kita kembali kepada sistem buatan Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang maha menciptakan manusia. Sistem yang mampu memberikan ketenangan hidup bagi hambanya. Mengatur segala urusan makhluk yang diciptakannya, yakni alam semesta, kehidupan dan manusia. Semuanya harus taat, tunduk dan patuh sesuai aturanNya. Supaya negeri ini berkah, seperti dalam firmanNya yang tercantum dalam QS. Al Maidah: 51.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim dan Qs. Al A'raf : 96

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Al qur'an tidak hanya sebagai kitab suci tetapi sebagai pedoman hidup manusia. Baik berupa pedoman hidup dalam lingkup pribadi, masyarakat maupun negara.

Wahai para pemegang kekuasaan, perhatikanlah perbuatan kalian. Karna kita akan dimintai pertanggungjawaban dihadapanNya segala apa yang kita perbuat didunia ini. Wallahu'alam bi Showab

Pengirim: Agung Andayani, Pemerhati Media, Kendal

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA