Waspadai Banjir Bandang Pasca Erupsi

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Seorang penyelamat berjalan di daerah yang dilanda letusan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia, 5 Desember 2021.
Seorang penyelamat berjalan di daerah yang dilanda letusan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia, 5 Desember 2021. | Foto: AP/Trisnadi

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Adanya bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung yang diakibatkan erupsi Gunung Semeru perlu diwaspadai. Sebab, selain erupsi awan panas, ada bahaya sekunder seperti banjir bandang membawa material vulkanik di hulu.

Dosen Fakultas Geografi UGM, Dr Danang Sri Hadmoko mengatakan, setelah erupsi potensi ancaman bencana masih ada. Sebab, pada Desember, Januari, dan Februari masyarakat masih perlu memperhatikan potensi aliran lahar dan juga erupsi susulan.

Ia mengingatkan, fenomena La Nina memunculkan potensi hujan tinggi, sehingga masyarakat yang ada di area sungai berhulu Gunung Semeru perlu waspada. Warga juga harus menghindari aktivitas dalam radius bahaya yang sudah ditetapkan.

"Beberapa sungai yang berhulu di Semeru itu perlu diwaspadai supaya ketika terjadi aliran lahar di bagian tengah dan hilir yang banyak permukiman bisa terselamatkan," kata Danang di Auditorium FMIPA UGM, Senin (6/12).

Ada pula potensi material yang masih panas, sehingga proses evakuasi perlu dilakukan hati-hati, melibatkan pihak-pihak yang pahami kondisi gunung api. Warga sekitar area erupsi dianjurkan memakai masker dan kacamata pelindung.

"Untuk menghindari bahaya kesehatan akibat abu vulkanik yang mempunyai kandungan silika dan berukuran mikro," ujar Danang.

Pakar geofisika UGM, Dr Wahyudi menerangkan, sejak 2012 status Gunung Semeru telah dinyatakan level II atau waspada. Kemudian, September 2020 mulai teramati aktivitas berupa kepulan asap putih dan abu-abu 200-700 meter di puncak Semeru.

Aktivitas serupa berlanjut Oktober 2020 setinggi 200-1000 meter, dan 1 Desember 2020 terjadi awan panas 2-11 kilometer ke arah Kobokan di lereng tenggara. Pada 90 hari terakhir, ada peningkatan aktivitas kegempaan, terutama gempa erupsi.

"Ada yang mencapai 100 kali per hari, ini sudah bisa dijadikan prekursor terjadinya erupsi yang lebih besar," katanya.

Menurut Wahyudi, guguran kubah lava yang dipicu tingginya curah hujan sebabkan luncuran awan panas yang jarak luncurnya capai 11 kilometer. Secara saintifik, curah hujan yang tinggi bisa menyebabkan ketidakstabilan dari endapan lava.

Dalam beberapa kasus, lanjut Wahyudi, faktor eksternal seperti curah hujan yang tinggi memang bisa menyebabkan thermal stress dan memicu ketidakstabilan dalam tubuh kubah lava. Kubah lava sudah tidak stabil, dipicu curah hujan tinggi. "Ini yang menyebabkan adanya longsor," ujar dia.

Sedangkan, untuk mengetahui faktor dominan yang menyebabkan erupsi pada 4 Desember 2021 lalu, perlu dilakukan kembali analisis data secara terintegrasi. Yang mencakup data gempa vulkanik, deformasi, gas, dan data curah hujan.

Data tersebut dilihat secara temporal dalam beberapa bulan terakhir. Wahyudi menambahkan, data-data tersebut nantinya dikorelasikan dengan kejadian, baik guguran dengan magnitude kecil maupun magnitude besar.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Terkait


Dompet Dhuafa Bantu Penanganan Pascabanjir Bandang Garut

Alih Fungsi Lahan, Salah Satu Penyebab Banjir Bandang Garut

UGM Raih Perunggu 180 Degrees Consulting Global

Mahasiswa UGM Gagas Ubin Penghasil Listrik

Kendala Hilirisasi Hasil Riset karena Belum Kuatnya Sinergi

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark