Genjot Produksi Susu, Koperasi Pujon Peroleh Dana Rp 12 M

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq

 Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengunjungi Koperasi Sinau Andhandani Ekonomi (SAE) di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jumat (16/4).
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengunjungi Koperasi Sinau Andhandani Ekonomi (SAE) di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jumat (16/4). | Foto: Wilda Fizriyani.

REPUBLIKA.CO.ID,  MALANG -- Koperasi Sinau Andhandani Ekonomi (SAE) Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mendapatkan dana pembiayaan Rp 12 miliar. Dana yang diperoleh dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) ini untuk meningkatkan produktivitas susu sapi.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan, SAE termasuk koperasi tua yang berfokus pada produksi susu sapi. Koperasi ini memiliki pengalaman panjang termasuk bertahan dalam menjalankan aktivitasnya.

"Ini kan mestinya terus tumbuh. Tapi tadi, katanya, kalau dirata-ratakan 11,5 liter (hasil susu). Itu sebenarnya kurang produktif," kata Teten, di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jumat (16/4).

Produksi susu sapi yang produktif seharusnya berkisar 15 sampai 20 liter. Oleh sebab itu, Teten memberikan pembiayaan Rp 12 miliar agar koperasi SAE bisa merevitalisasi diri.

Koperasi dapat membantu peternak meningkatkan kualitas pakan dan peremajaan bibit sapi yang lebih produktif. Selain itu, kementerian juga berupaya untuk membantu modernisasi produksi dengan ekosistem yang lebih kuat.

"Jadi kami berkomitmen bukan hanya membantu dari sisi pembiayaan penambahan untuk modal kerja, modal investasi tapi juga manajemen yang lebih modern," ujarnya.

Mengenai penyaluran dana pembiayaan, Bupati Malang M Sanusi menyatakan apresiasinya. Kecamatan Pujon selama ini dikenal sebagai basis terbesar untuk produksi susu sapi. Namun jumlah produksi susu di daerah ini mengalami penurunan.

Semula wilayah Pujon rata-rata mampu menghasilkan susu 25 sampai 30 liter per hari. Namun kini rata-rata jumlahnya hanya sekitar 11 liter per hari. "Sekarang kalau produksi 25 sampai 30, sapinya tidak kuat," kata Sanusi.

Dari segi penghasilan, satu liter sapi yang dihasilkan peternak biasanya dihargai Rp 5.500. Jika mereka hanya menghasilkan 10 liter, maka pendapatannya Rp 55 ribu. Jumlah ini jelas kurang cukup mengingat masih ada pembiayaan pakan dan biaya pengolahan.

Melihat situasi ini, Sanusi berharap, terdapat regulasi pemerintah agar koperasi dapat membantu peremajaan induk sapi lebih baik lagi. Dengan demikian, produksi sapi di Pujon misalnya dapat meningkat lagi ke depannya.

Ketua Koperasi SAE Abdi Swasono mengaku lebih memilih untuk meremajakan sapi dibandingkan membeli sapi impor untuk menghasilkan susu. Pasalnya, sapi impor dihargai cukup mahal, yakni Rp 45 juta per ekornya.

"Harapan kami nanti tidak mengadakan sapi impor tapi semen beku, harus menggunakan sapi indukan kita. Insya Allah nanti akan keluar yang lebih baik (kualitasnya)," kata dia.

Dengan adanya dana pembiayaan, Koperasi SAE setidaknya dapat memanfaatkan Rp 7,5 miliar untuk mendapatkan bahan baku ternak. Kemudian biaya peremajaan sapi Rp 1,5 miliar dan pengembangan cafe susu perah Rp 3,5 miliar. Cafe akan dibangun di atas lahan 5.000 meter persegi pada Juni mendatang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Kementan Siapkan Program Peningkatan Produksi Susu Nasional

70 Ribu UMKM di Bandung Belum Terima BLT Kemenkop

BRI Ditetapkan Sebagai Penyalur BPUM Hingga Januari 2021

Konsumsi Susu Sapi Nasional di Tengah Pandemi

Susu Sapi Jersey Vs Holstein, Apa Bedanya?

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark