Lansia di Tasikmalaya Masih Ingin Berusaha

Rep: Bayu Adji P / Red: Agus Yulianto

Mensos Tri Rismaharini saat menghandiri Hari Lanjut Usia Nasional 2022 di RS SMC Kabupaten Tasikmalaya, Ahad (29/5/2022).
Mensos Tri Rismaharini saat menghandiri Hari Lanjut Usia Nasional 2022 di RS SMC Kabupaten Tasikmalaya, Ahad (29/5/2022). | Foto: Republika/Bayu Adji

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Lansia kerap dianggap sebagai beban karena sudah tak lagi produktif. Alhasil, kehidupan para lansia harus bergantung dari anggota keluarganya.

Namun, anggapan itu tak berlaku bagi sebagian lansia di Kabipaten Tasikmalaya. Mereka tetap ingin berusaha agar hidupnya tak tergantung kepada orang lain, termasuk anaknya sendiri.

"Saya ingin tetap diperhatikan sama keluarga. Namun, kami juga mau ingin tetap berkegiatan," kata Erfan, seorang lansia berusia 70 tahun asal Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, saat menghadiri peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN), Ahad (29/5/2022).

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Erfan sempat berusaha berjualan bakso aci untuk menghidupi dirinya sendiri bersama istrinya. Namun, pagebluk yang terjadi berdampak kepadanya. Usahanya bangkrut. Ia dan istrinya pun lebih sering di rumah.

"Untuk kebutuhan sehari-hari ada subsidi dari anak-anak," kata lelaki yang memiliki tiga anak itu.

Meski mendapat bantuan untuk kebutuhan sehari-hari dari anak-anaknya, tapi tak jarang itu masih kurang. Sementara anak-anaknya sudah memiliki kehidupan masing-masing bersama keluarganya. "Minta bantuan tetangga juga malu," kata dia.

Alih-alih minta dibantu anak atau tetangga sekitar, Erfan lebih memilih berharap adanya bantuan modal dari pemerintah. Sebab, dia ingin tetap bisa berdaya untuk memenuhi kebutuhannya tanpa berharap kepada anak-anaknya.

Erfan yakin, dirinya masih bisa berusaha meski usianya tak lagi muda. Lagi pula, hanya berdiam diri di rumah hanya membuatnya jenuh.

"Bagi saya, tak ada orang yang mau merepotkan anak-anak. Kami juga mau mandiri, beraktivitas, agar terus sehat. Kalau di rumah terus juga jenuh," kata lelaki yang mata kananya habis dioperasi katarak.

Salah seorang lansia lainnya, Abdulloh (60 tahun) mengatakan, selama ini, berjualan gas untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Menurut dia, berkegiatan di usia tua membuat dirinya tetap sehat.

"Kalau menurut saya, memang sebagian lansia sudah dianggap tak produktif. Namun, masih banyak yang bisa berkegiatan. Ketika kami difasilitasi itu pasti beraktivitas. Mangkanya harus ada program dari pemerintah," kata dia.

Bupati Tasikmalaya, Ade Sugianto, mengatakan, dengan banyaknya lansia di daerahnya berarti usia harapan hidup tinggi. Namun, di sisi lain terdapat banyak lansia tunggal yang harus difasilitasi.

"Perhatian kami terhadap lansia, berdasarkan Bu Menteri sampaikan, kami akan lakukan assessment dan pemilahan. Kami cari masalah yang ada dan mendata yang mereka butuhkan," kata dia.

Menurut dia, bantuan untuk lansia itu tak selalu harus berupa kebutuhan pangan. Sebab, tidak semua lansia itu tidak produktif. Dia menyebut, ada banyak lansia yang produktif dan masih mau beraktivitas.

"Makanya, bantuannya pun akan disesuaikan. Mungkin mereka butuh bantuan modal. Kami akan lakukan assessment agar dapat diketahui solusinya," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini menekankan, kebijakan yang berorientasi meningkatkan kualitas hidup lansia. Menurut dia, lansia bukan merupakan beban negara. Sebab, usia tua tidak berarti seseorang kehilangan produktivitas.

"Lansia bisa tetap produktif, tapi bukan bermaksud lansia disuruh bekerja. Namun, mereka bisa beraktivitas yang bermanfaat baik secara kesehatan dan bisa juga ekonomi. Kalau mereka gembira kan bisa menambah imun," katanya.

Untuk itu, Mensos berpesan, semua elemen masyarakat ikut memberikan ruang kepada lansia, agar mereka tetap sehat dan produktif. Yang paling berkewajiban memastikan hal itu adalah keluarganya, dalam hal ini adalah anak-anaknya.

"Saya sedih karena mendapatkan laporan ada lansia yang dibuang oleh anaknya. Dia diturunkan di tengah jalan dan tidak dirawat. Ini sangat menyedihkan," kata Mensos.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Mensos: Biaya Penanggulangan Lansia Tunggal tidak Murah

Mensos: Lansia Tunggal Terbanyak Ditemukan di Tasikmalaya

Mensos: Lansia Tunggal Terbanyak Ditemukan di Tasikmalaya

Risma Minta Tambahan Anggaran Rp 11 T, Mayoritas untuk Bansos

Mensos Tunggu Keputusan Menkeu tentang Bansos Jelang Ramadhan

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image