Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

55 Sapi Terjangkit PMK di Bali Telah Dimusnahkan

Senin 04 Jul 2022 00:35 WIB

Red: Esthi Maharani

Pekerja menggiring sapi Bali ke atas truk untuk dikirim ke Kabupaten Jembrana di Pasar Hewan Beringkit, Badung, Bali, Ahad (3/7/2022). Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menghentikan sementara pengiriman sapi Bali ke luar pulau sejak Sabtu (2/7) menyusul adanya 63 kasus sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di tiga kabupaten di Bali sehingga 55 ekor sapi terjangkit telah dimusnahkan.

Pekerja menggiring sapi Bali ke atas truk untuk dikirim ke Kabupaten Jembrana di Pasar Hewan Beringkit, Badung, Bali, Ahad (3/7/2022). Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menghentikan sementara pengiriman sapi Bali ke luar pulau sejak Sabtu (2/7) menyusul adanya 63 kasus sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di tiga kabupaten di Bali sehingga 55 ekor sapi terjangkit telah dimusnahkan.

Foto: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Pemprov Bali temukan 63 ternak sapi terjangkit PMK, 55 di antaranya dimusnahkan

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menemukan sebanyak 63 kasus ternak sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) 55 di antaranya telah dimusnahkan.

"Total 63 kasus, yang sudah stepping out atau pemusnahan 55, sisa 8 ekor," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali I Wayan Sunada di Denpasar, Sabtu (2/7/2022).

Sunada menjelaskan bahwa 63 kasus sapi PMK yang ditemukan di Bali muncul tiba-tiba pada bulan Juni 2022 dengan kasus perdana di Kabupaten Gianyar. "Kasus pertama adalah di Kabupaten Gianyar, Desa Medahan ada 38 kasus, di Kabupaten Buleleng, Desa Lokapaksa 21 kasus dan di Kabupaten Karangasem empat," ujarnya.

Sapi terjangkit yang berasal dari Kabupaten Gianyar saat ini telah dimusnahkan seluruhnya, dan belum ditemukan kembali gejala serupa. Namun terhadap 22 kasus di Buleleng, proses pemusnahan belum berlangsung terhadap empat sapi, begitu pula empat ekor sapi positif PMK di Karangasem.

"Yang paling tepat kita lakukan adalah pemusnahan untuk menghilangkan sumber-sumber penyakit. Lalu sumber penyakitnya sudah kita hilangkan semoga Bali akan kembali menjadi hijau, hanya lagi delapan kasus itu," kata Sunada.

Menurut dia, pemotongan paksa terhadap hewan terjangkit PMK adalah solusi terbaik. Pasalnya jika hewan positif hanya dirawat atau karantina tetap berpotensi menjadi pembawa virus. Peternak pemilik sapi terjangkit di Bali kemudian menjadi korban dari penyakit menular pada hewan ini, Sunada hanya dapat meminta masyarakat paham dengan kondisi tersebut karena wabah ini tidak dapat dihindari.

Terkait penyebab munculnya kasus positif di Bali, Kadistan pangan belum dapat memastikan penyebabnya. Pihaknya hingga kini masih mencari jejak penularan kasus PMK di Pulau Dewata. Sunada juga mengaku kaget lantaran kasus positif justru ditemukan di tiga daerah tersebut, sedangkan pengawasan ketat terhadap hewan maupun kendaraan pengangkut telah dilaksanakan di kawasan pelabuhan.

"Begitu balik dari Jawa akan dibersihkan atau dimandikan mobilnya disemprot disinfektan. Ini dilakukan di Gilimanuk, Celukan Bawang, Karangasem kita jaga ketat disana," kata Sunada.

Kendati virus PMK pada hewan akhirnya memasuki Bali, Sunada masih tetap optimis bahwa wabah ini akan segera berakhir. Upaya lockdown kemudian diterapkan agar hewan-hewan tersebut tak dapat dikirim menuju luar Bali.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA