Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

WHO Nyatakan Cacar Monyet Masuk Wabah Kategori Sedang

Kamis 30 Jun 2022 07:37 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Foto yang dipasok CDC pada 1997 memperlihatkan kulit lengan kanan dan dada seorang pasien ditumbuhi lesi cacar monyet. Selama lesi masih ada, pasien cacar monyet masih bisa menularkan penyakitnya.

Foto yang dipasok CDC pada 1997 memperlihatkan kulit lengan kanan dan dada seorang pasien ditumbuhi lesi cacar monyet. Selama lesi masih ada, pasien cacar monyet masih bisa menularkan penyakitnya.

Foto: (CDC via AP)
WHO sebut kasus cacar monyet saat ini belum sesuai dengan yang dilapokan.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wabah virus cacar monyet internasional masuk wabah kategori sedang. Akan tetapi, WHO juga mencatat bahwa jumlah kasus yang sebenarnya kemungkinan belum sesuai dengan yang sudah dilaporkan

Lewat pernyataan resminya, WHO menginformasikan ada lebih dari 3.400 kasus cacar monyet di 50 negara yang dikonfirmasi dengan uji laboratorium sejak 22 Juni 2022. Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mencatat satu kasus kematian.

Baca Juga

Mayoritas kasus dilaporkan dari WHO Wilayah Eropa, sedangkan dari wilayah Amerika mencapai 11 persen. Adapun kasus kematian terjadi di Nigeria pada kuartal kedua 2022. Dengan skala tersebut, risiko regional di wilayah geografis Eropa dianggap tinggi.

Itu mencakup beberapa negara di Eropa yang baru terimbas serta presentasi kasus klinis yang agak tidak biasa. Untuk area lainnya, risiko dianggap sedang dengan mempertimbangkan pola epidemiologi, kemungkinan risiko masuknya kasus, serta kapasitas untuk mendeteksi kasus dan menanggapi wabah.

"Risiko keseluruhan dinilai moderat di tingkat global mengingat ini adalah pertama kalinya terjadi kasus dan klaster dilaporkan secara bersamaan di lima Wilayah WHO," demikian bunyi pernyataan resmi WHO, dikutip dari laman Fox News, Kamis (30/6/2022).

WHO juga menyoroti bahwa untuk negara-negara yang baru terkena dampak, ini adalah pertama kalinya sejumlah kasus dikonfirmasi di antara pria yang baru-baru ini melakukan kontak seksual. Baik itu dengan pasangan baru atau beberapa orang berbeda.

Selain itu, WHO mengatakan kemunculan cacar monyet di seluruh dunia yang tidak terduga menunjukkan bahwa virus tersebut mungkin telah beredar di bawah radar sistem pengawasan. Bisa jadi penularan berkelanjutan dari manusia ke manusia tidak terdeteksi untuk jangka waktu tertentu.

Ilmuwan mendapati sejumlah kasus cacar monyet dalam wabah belakangan bersifat "atipikal" alias tak serupa. Ada kasus di mana pasien hanya memiliki sedikit atau satu lesi, bahkan tidak ada lesi kulit dengan nyeri dubur dan perdarahan sama sekali.

Ada pasien dengan lesi di daerah genital atau perineum yang tidak menyebar, lesi muncul pada berbagai tahap perkembangan, atau munculnya lesi sebelum demam, malaise, dan gejala konstitusional lainnya. Pengenalan klinis awal pun dinilai terbatas di beberapa negara.

Peningkatan mekanisme pengawasan di banyak negara juga disinyalir rendah, sebab penyakit ini sebelumnya tidak terdeteksi di sebagian besar negara. Meski begitu, WHO meminta sistem kesehatan tidak mengesampingkan perawatan kesehatan untuk kasus tersebut.

Vaksin cacar telah menerima izin di AS, Eropa, dan Kanada untuk mengobati cacar monyet. Setelah menggelar pertemuan pada 23 Juni 2022 silam, Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional memberi tahu direktur jenderal WHO bahwa wabah bukan merupakan darurat kesehatan masyarakat yang perlu menjadi perhatian internasional.

Setidaknya, pada tahap ini wabah belum dinyatakan peristiwa darurat. Hanya saja, komite menyarankan berbagai laporan kasus harus terus dipantau dan ditinjau kembali. WHO tidak merekomendasikan langkah-langkah pembatasan lalu lintas internasional.

Akan tetapi, WHO menyarankan pasien yang diduga atau dikonfirmasi mengidap monkeypox menghindari perjalanan yang tidak mendesak. Orang yang mengalami ruam selama perjalanan atau setelah kembali dari pelesir juga diimbau memeriksakan diri ke profesional kesehatan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA