Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Pedagang Hewan Qurban di Tangsel Mengaku Deg-degan Soal Stok

Senin 27 Jun 2022 18:46 WIB

Rep: Eva Rianti/ Red: Andi Nur Aminah

Pedagang menyemprotkan cairan disinfektan di tenda penjualan hewan kurban (ilustrasi)

Pedagang menyemprotkan cairan disinfektan di tenda penjualan hewan kurban (ilustrasi)

Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengiriman sapi dari NTT misalnya, karena dikarantina sehingga pengiriman agak telat.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN -- Pedagang hewan kurban di Tangerang Selatan, Banten menyampaikan adanya kendala pengiriman hewan kurban, imbas dari kondisi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Pedagang mengaku ada sedikit kekhawatiran, tetapi tetap optimis untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap hewan kurban. 

"Yang pasti kami mengalami permasalahan pengiriman seperti sapi di Nusa Tenggara Timur itu kan di sana harus dikarantina sehingga pengiriman agak terlambat, terus dari Jawa Timur enggak bisa masuk, terus juga harus bikin surat keterangan kesehatan hewan. Jadi kita paling stok-stok yang ada di daerah kita," kata Ketua Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Tangsel Muksin Al Fachry saat dihubungi, Senin (27/6/2022). 

Baca Juga

Terkait riil jumlah stok pada pedagang, Muksin mengatakan belum memiliki data keseluruhan se-Tangsel. Namun, bisa digambarkan adanya stok yang mengalami penurunan. Contohnya, jumlah hewan ternak yang tersedia di kandangnya saat ini sebanyak 300 ekor, angka tersebut lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di angka sekitar 450 ekor. 

"Penjualan belum terlihat. Ketersediaan agak nahan. Biasanya H-14 sudah menggeliat, tapi ini kita rata-rata pelanggan saja, pembeli baru belum kelihatan, perkiraan saya pembeli mulai meningkat H-7 lah," kata dia. 

Muksin berujar, wabah PMK memberi pengaruh cukup besar pada kenaikan harga hewan ternak pada tahun ini. Hal itu lantaran membutuhkan biaya perawatan yang lebih ekstra diantaranya pemenuhan obat-obatan dan vitamin, sehingga memengaruhi harga. Lonjakan harganya bisa mencapai 30 persen. 

Terkait dengan informasi ditutupnya jalur masuk hewan ternak di Tangsel per 27 Juni 2022, Muksin mengaku cukup was-was. "Deg-degan kita ada. Pembelian tetap, suplai agak ketahan, tapi untuk suplai dari Jawa Barat saya rasa masih cukup," tuturnya. 

Muksin menambahkan, para pedagang tetap optimistis dalam penjualan hewan kurban pada tahun ini meski mengalami kesulitan akibat dampak PMK. Hal itu juga sejalan dangan aturan dari Pemerintah Provinsi Banten yang masih membolehkan pengiriman hewan kurban dari Lampung. 

"Kami tetap optimistis. Kami HPDKI ada juga dari Sumatera, kalau memang tidak boleh masuk dari Jawa, maka dari Lampung bisa, tinggal berkoordinasi saja," tuturnya. 

Terkait dengan penjualan, Muksin melanjutkan, penjualan diperkirakan tetap lancar karena semangat berkurban masyarakat tidak pernah mengalami penurunan. Sekalipun dalam kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi dua tahun belakangan. 

"Kita masih optimistis karena beberapa tahun belakangan mengalami hal serupa, penjualan nggak kelihatan awalnya, tapi H-2, H-3 banyak karena biasanya yang berkurban akan berkurban lagi. Waktu zaman pandemi, perkiraan (penjualan) kita H-2 pembelian meningkat, jadi pengaruhnya tidak begitu banyak kalau untuk ibadah. Semangat ibadah tidak mengurangi apapun walaupun ada Covid-19, PMK, yang penting jaga kesehatan," ungkapnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA