Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Peluang Investasi Obligasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Dunia

Senin 27 Jun 2022 18:44 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia, pasar obligasi Indonesia juga mengalami kenaikan yield akibat foreign fund outflow. Namun dukungan investor domestik untuk obligasi pemerintah yang tinggi membuat pasar obligasi Indonesia cukup resilient.

Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia, pasar obligasi Indonesia juga mengalami kenaikan yield akibat foreign fund outflow. Namun dukungan investor domestik untuk obligasi pemerintah yang tinggi membuat pasar obligasi Indonesia cukup resilient.

Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Dukungan investor domestik untuk SUN buat pasar obligasi Indonesia cukup resilient

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia, pasar obligasi Indonesia juga mengalami kenaikan yield akibat foreign fund outflow. Namun dukungan investor domestik untuk obligasi pemerintah yang tinggi membuat pasar obligasi Indonesia cukup resilient.

"Kondisi ini tercermin dari kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia yang relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara Emerging Market lainnya," kata Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, dalam risetnya dikutip Ahad (26/6). 

Handy menilai dukungan investor domestik kepada obligasi pemerintah akan terus solid karena faktor likuiditas rupiah yang masih melimpah. Secara umum, terjadi pertumbuhan pada kredit perbankan sekitar 9 persen, namun Dana Pihak Ketiga (DPK) berupa tabungan, giro, dan deposito juga mengalami kenaikan yang lebih tinggi yakni sekitar 10 persen.

Hal ini menyebabkan tren loan-to-deposit ratio perbankan terus menurun, yang berarti sistem perbankan Indonesia memiliki likuiditas yang memadai. Dampaknya suku bunga deposito terus mengalami penurunan, sehingga selisih antara bunga depoito dan yield SUN semakin melebar. 

"Kondisi ini membuat dukungan investor domestik terhadap obligasi pemerintah Indonesia akan terus berlanjut," kata Handy. 

Menurut Handy, tren likuiditas pada perbankan akan terus memadai, mengingat Bank Indonesia masih akan melakukan burden sharing SKB3, dengan membeli obligasi pemerintah di pasar perdana sejumlah Rp 220 triliun. 

Selain itu, pemerintah masih menjalankan ekspansi fiskal dimana defisit APBD masih di atas 4 persen dari PDB serta terjadi surplus pada neraca perdagangan Indonesia. Hal ini akan turut menjaga likuiditas ke depannya. 

Di tengah ketidakpastian global yang masih terjadi akibat pandemi, geopolitik perang Rusia dan Ukraina, disrupsi rantai pasokan, kenaikan inflasi yang diikuti dengan kenaikan suku bunga global, menurut Handy, diversifikasi portofolio investasi menjadi sangat penting.

"Obligasi menjadi instrumen yang menarik karena memberikan cash flow kupon yang pasti, dengan tingkat imbal hasil yang masih menarik dan nilai pokok investasinya akan kembali lagi pada saat jatuh tempo," kata Handy.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA