Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Empat Pertanyaan Seputar Long Covid Ini Mulai Terjawab

Ahad 26 Jun 2022 04:15 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Kemunculan kasus long Covid di awal pandemi sempat mengundang beragam pertanyaan.

Kemunculan kasus long Covid di awal pandemi sempat mengundang beragam pertanyaan.

Foto: www.freepik.com.
Kemunculan kasus long Covid di awal pandemi sempat mengundang beragam pertanyaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemunculan kasus long Covid di awal pandemi sempat mengundang beragam pertanyaan. Seiring dengan berlalunya waktu dan semakin banyaknya studi yang dilakukan, sebagian pertanyaan mengenai long Covid mulai terjawab.

Hingga saat ini, ada lebih dari 1.650 karya ilmiah mengenai long Covid yang telah dipublikasikan di National Library of Medicine sejak 2020. Akan tetapi, masih perlu ada lebih banyak studi lagi untuk menjawab beragam pertanyaan yang tersisa seputar long Covid.

Baca Juga

"Kita benar-benar baru saja mulai bekerja untuk membenahi ini. Ini rumit, ini membingungkan," jelas direktur penelitian penyakit menular dari Beaumont Health, Dr Matthew Sims, seperti dilansir AL, Sabtu (25/6/2022).

Sejauh ini, sudah ada empat pertanyaan mengenai long Covid yang berhasil terjawab. Berikut ini adalah keempat pertanyaan seputar long Covid tersebut beserta dengan jawabannya.

Apa Itu Long Covid?

Secara umum, long Covid didefinisikan sebagai gejala Covid-19 jangka panjang yang bisa berlangsung hingga beberapa pekan, bulan, atau bahkan tahun setelah infeksi awal terjadi. Gejala yang dialami oleh orang yang terkena long Covid bisa sangat beragam.

Survei terbaru yang dilakukan oleh Center for Health and Research Transformation (CHRT) di University of Michigan menemukan bahwa gejala long Covid paling umum adalah masalah pernapasan. Gejala berikutnya yang juga banyak dialami adalah hilang atau gangguan indra penciuman atau perasa, kecemasan, depresi, dan beberapa masalah kesehatan mental lain.

Tak hanya itu, survei juga menemukan bahwa long Covid bisa memunculkan gejala persarafan dan masalah neurologis. Gejala lain dari long Covid bisa berupa diabetes, masalah jantung, kerusakan ginjal, dan kelelahan.

"Saya lebih cenderung berpikir ini seperti puncak gunung es long Covid, karena semua hal mengenai virus ini dan pandemi ini, serta penyakit ini sangat baru dan setiap hari kita mempelajari lebih banyak hal," ujar direktur penelitian dan evaluasi CHRT, Melissa Riba.

 

Seberapa Umum Long Covid?

Kasus long Covid tampaknya merupakan hal yang cukup umum. The Cover Michigan Survey misalnya, menemukan bahwa lebih dari satu di antara tiga orang warga Michigan mengalami long Covid. Survei berskala kecil ini melibatkan 138 penyintas Covid-19, di mana sebanyak 48 orang di antaranya mengalami long Covid.

Dalam skala dunia, University of Michigan School of Public Health menganalsis 50 studi yang melibatkan lebih dari 1,6 juta orang. Analisis ini mendapati bahwa prevalensi long Covid adalah sekitar 43 persen.

"Umumnya berada di kisaran 25 persen dan 43 persen, dengan sebagian besar sumber menunjukkan (prevalensi) di rentang yang lebih sempit antara 30 persen ke 35 persen," ungkap manajer proyek CHRT, Jonathan Tsao.

Terkait faktor risiko, long Covid tampak dipengaruhi oleh tingkat keparahan gejala saat seseorang terkena Covid-19. Akan tetapi, hubungan keduanya belum benar-benar jelas mengingat orang yang terkena Covid-19 ringan juga bisa mengalami long Covid.

Menurut sebuah studi di Swedia yang melibatkan lebih dari 205.000 pasien Covid-19, persentase long Covid di antara pasien yang dirawat di ICU adalah 32 persen. Sedangkan long Covid yang terjadi pada pasien yang dirawat di rumah sakit namun tidak di ICU adalah 6 persen. Kasus long Covid pada pasien Covid-19 yang tidak dirawat di rumah sakit adalah 1 persen.

Di Michigan, CHRT menemukan bahwa wanita memiliki kemungkinan empat kali lebih besar mengalami long Covid. Selain itu, penyandang diabetes memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengeluhkan long Covid.

 

Apakah Vaksin Mencegah Long Covid?

Studi dalam Nature Medicine menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 memiliki potensi untuk memberikan perlindungan terhadap long Covid. Studi ini juga menemukan bahwa vaksinasi Covid-19 dapat menurunkan risiko long Covid sekitar 15 persen.

Dalam studi ini, tim peneliti melibatkan sekitar 34.000 orang yang sudah divaksinasi dan mengalami breakthrough infection. Studi ini juga melibatkan 113.000 orang yang belum divaksinasi dan terkena Covid-19 serta lebih dari 13 juta orang yang tidak pernah terkena Covid-19.

Berdasarkan studi ini, spesialis penyakit menular dari Spectrum Health, Dr Liam Sullivan, menekankan bahwa vaksin Covid-19 bisa menurunkan risiko namun tak bisa mencegah long Covid. Selain itu, gejala long Covid pada individu yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19 juga umumnya lebih ringan.

Dr Liam menambahkan, studi ini hanya melibatkan para veteran dengan rerata usia 60 tahun sebagai partisipan. Para partisipan umumnya memiliki faktor pemberat lain. Oleh karena itu, temuan ini tak bisa begitu saja diadopsi untuk populasi umum.

 

Apa Dampak Ekonomi Akibat Long Covid?

Cover Michigan Survei terbaru menemukan bahwa orang-orang yang mengalami long Covid memiliki kemungkinan besar untuk berada pada situasi finansial yang lebih buruk dibandingkan satu tahun sebelumnya. Hal ini mungkin terjadi karena long Covid membuat orang-orang tak bisa berfungsi dengan kapasitas yang sama seperti sebelum pandemi.

Long Covid bisa memuat penderitanya mengajukan izin sakit lebih panjang, waktu kerja menurun, dan akibatnya pendapatan mereka pun ikut menurun. Bahkan, ada pula penderita long Covid yang pada akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan mereka.

Sebuah survei nasional yang melibatkan lebih dari 1.000 pasien Covid-19 juga menemukan bahwa 44 persen pekerja long Covid mengalami penurunan jam kerja per pekan. Sebagian besar responden mengungkapkan bahwa mereka perlu izin sakit karena gejala long Covid.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA