Jumat 24 Jun 2022 07:39 WIB

Kadinkes tak Nilai Kenaikan Kasus Covid-19 di Bali Sebagai Lonjakan

Sejak awal pekan ini, kasus baru Covid-19 di Bali mengalami peningkatan.

Peserta melakukan gerakan yoga saat perayaan Yoga International Day di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali, Selasa (21/6/2022). Saat ini angka kasus baru Covid-19 di Bali bersifat fluktuatif. (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Peserta melakukan gerakan yoga saat perayaan Yoga International Day di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali, Selasa (21/6/2022). Saat ini angka kasus baru Covid-19 di Bali bersifat fluktuatif. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. dr I Nyoman Gede Anom menyebut perkembangan kasus Covid-19 di daerah itu selama empat hari terakhir sebagai fluktuatif. Ia mengakui ada kenaikan kasus Covid-19 di Pulau Dewata.

"Kita anggap ini bukan lonjakan karena memang ada kenaikan tapi kalau lonjakan artinya terus naik, sedangkan ini fluktuatif," katanya di Denpasar, Kamis (23/6/2022).

Baca Juga

Sejak Ahad (19/6/2022) angka positif Covid-19 di Provinsi Bali mengalami tren peningkatan, dimulai dari 27 kasus harian, keesokan harinya pada Senin (20/6/2022) sebanyak 37 kasus, Selasa (21/6/2022) meningkat hampir dua kali lipat menjadi 65 dan Rabu (22/6/2022) bertambah 56 kasus. Angka positif tersebut mengantarkan Pulau Dewata masuk dalam jajaran lima daerah di Indonesia yang sedang mengalami peningkatan angka COVID-19, namun Anom menegaskan agar masyarakat tidak panik.

"Saya yakin kasus di Bali akan turun lagi karena masyarakat terkenal disiplin dan taat protokol kesehatan. Sekarang saja sebagian besar masyarakat tetap memakai masker di luar ruangan walaupun ada imbauan presiden bahwa di luar ruangan boleh buka masker," ujarnya.

Beberapa waktu terakhir, sektor ekonomi pariwisata Bali mulai bangkit, sehingga semakin banyak wisatawan dan kegiatan mancanegara mengisi sudut-sudut di kabupaten/kota. Hingga akhirnya pada Mei 2022, ditemukan kasus perdana Covid-19 varian Omicron BA.4 dan BA.5, sehingga naiknya angka positif saat ini menjadi perhatian khusus.

"Ada peningkatan tapi sifatnya fluktuatif, naik kemudian turun sejak empat hari lalu. Jadi ini banyak yang tes karena berangkat ke luar negeri, bule-bule pulang kampung, ada WNI yang mau kerja di luar dan akhirnya kebetulan positif," kata Anom.

Terkait temuan kasus belakangan yang didominasi oleh warga negara asing (WNA), ia menyebut itu bukan hal yang perlu ditakuti. "Dari awal rata-rata yang positif adalah WNA terutama yang tinggal lama di Bali, jadi memang tidak perlu dikhawatirkan, karena rata-rata mereka juga tanpa gejala," katanya.

Selain tanpa gejala, hingga saat ini Kementerian Kesehatan RI masih belum memberi keterangan terkait temuan kembali Omicron BA.4 dan BA.5 di Bali, meskipun spesimen rutin dikirimkan kepada Litbang Kemenkes. Selain empat hari terakhir, pada hari ini angka positif di Bali menurut data Satgas Covid-19 tetap naik.

Tercatat hingga Kamis malam, masuk 56 kasus dengan temuan terbanyak di Kota Denpasar, setelah sebelumnya Kabupaten Badung menduduki peringkat pertama. Terkait jenis Covid-19 yang belakangan sedang beredar masih belum dapat dikonfirmasi, lantaran dibutuhkan waktu cukup lama bahkan mencapai 14 hari.

"Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana mencegah dan mengurangi angka sakit dan kematian akibat Covid-19, yaitu mencegah dirawat di rumah sakit dan meninggal, dengan melakukan vaksin booster (penguat) untuk semua masyarakat Bali," kata Anom.

 

photo
Ketentuan vaksinasi booster yang terbaru - (Republika)

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement