Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

150 Komunitas Dukung Pengajuan Hari Kebaya Nasional

Senin 20 Jun 2022 20:44 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Para aktivis perempuan Indonesia yang tergabung dalam Pertiwi Indonesia dan Perempuan Berkebaya Indonesia mendorong agar kebaya dinobatkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia. Mereka menyampaikan gagasannya melalui aksi jalan santai bertajuk CFD Berkebaya sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta, Ahad (19/6/2022). Sebanyak 150 komunitas mendukung pengajuan Hari Kebaya Nasional.

Para aktivis perempuan Indonesia yang tergabung dalam Pertiwi Indonesia dan Perempuan Berkebaya Indonesia mendorong agar kebaya dinobatkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia. Mereka menyampaikan gagasannya melalui aksi jalan santai bertajuk CFD Berkebaya sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta, Ahad (19/6/2022). Sebanyak 150 komunitas mendukung pengajuan Hari Kebaya Nasional.

Foto: dokpri
Sebanyak 150 komunitas mendukung pengajuan Hari Kebaya Nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 150 komunitas dari berbagai daerah di Tanah Air mendukung upaya pengajuan Hari Kebaya Nasional sebagai salah satu upaya melestarikan jenis pakaian nusantara tersebut.

Ketua Tim Nasional Pengajuan Penetapan Hari Kebaya Lana T Koentjoro mengatakan pada 4 Juni 2022 lalu pihaknya bersama Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, tokoh masyarakat dan komunitas di Solo melakukan penandatanganan Dukungan Hari Kebaya Nasional sekaligus menggelar Parade Kebaya Nasional.

Baca Juga

Setelah Parade Kebaya Nusantara di Solo, saat ini dukungan terbaru datang dari Samarinda, Kalimantan Timur. "Kami akan melakukan safari dan kegiatan ke berbagai kota baik di Jawa dan luar Jawa untuk mengumpulkan dukungan," ujar Lana, Senin (20/6/2022).

Dikatakannya, sebanyak 150 komunitas yang memberikan dukungan pengajuan Hari Kebaya tersebut antara lain dari Yogyakarta, Bali, Manado dan daerah-daerah lainnya. Setelah Parade Kebaya Nusantara di Solo, lanjutnya, komunitas-komunitas tergerak melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kebaya.

Salah satunya yang Hari Bebas Berkendara (CFD) Berkebaya yang diikuti para pecinta Kebaya di Jakarta, pada Minggu (19/6) lalu. Menurut dia hal itu merupakan bukti dan bentuk kecintaan masyarakat Indonesia pada busana warisan leluhur.

"Saya bangga dan mengapresiasi kegiatan CFD Berkebaya yang dilakukan oleh teman-teman," ujar Lana yang juga Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM).

Menurut dia, semakin banyak kegiatan berkebaya yang dilakukan oleh berbagai komunitas, semakin baik sehingga upaya melestarikan kebaya terus terjaga.

"Ini juga sekaligus sebagai bentuk dukungan pada Tim Nasional Pengajuan Hari Kebaya dan Kebaya Menuju Unesco (Badan Dunia untuk Pendidikan dan Kebudayaan) yang sedang kami siapkan," katanya.

Menyinggung penetapan Hari Kebaya, dia menyatakan, masih menunggu kajian akademik dari tim pakar untuk menentukan tanggal yang akan diusulkan ke pemerintah, karena hal itu harus memiliki dasar historis.

"Harapan kami untuk segera mungkin diputuskan," katanya.

Lana menjelaskan kebaya merupakan busana warisan budaya leluhur bangsa Indonesia, selain itu menjadi pakaian sehari- hari perempuan Indonesia sejak dahulu dari Sabang sampai Merauke.

Demikian pula di Jawa, Sumatera Barat, Manado dan Maluku, perempuannya juga berkebaya, tambahnya, model kebaya juga disesuaikan dengan kearifan lokal masing masing daerah.

"Oleh karena itulah, kami Timnas yang terdiri dari ratusan komunitas tergerak untuk melestarikan kebaya dan mengusulkan pada pemerintah untuk menetapkan Hari Kebaya Nasional seperti halnya batik," katanya.

Dengan ditetapkannya Hari Kebaya Nasional, lanjutnya, maka kelestarian kebaya akan tercapai, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan industri kebaya serta turunannya, seperti asesoris, selop, tas akan makin berkembang.

sumber : Antara
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA