Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Putin: Dominasi Barat dalam Politik dan Ekonomi tidak akan Abadi

Sabtu 18 Jun 2022 14:11 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Presiden Rusia Vladimir Putin mengkritik sikap Barat yang masih berpegang pada kekuatan geopolitik usang.  Dia mengkritik elit Barat karena mengabaikan fakta bahwa, dalam beberapa dekade terakhir telah muncul poros kekuatan baru.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengkritik sikap Barat yang masih berpegang pada kekuatan geopolitik usang. Dia mengkritik elit Barat karena mengabaikan fakta bahwa, dalam beberapa dekade terakhir telah muncul poros kekuatan baru.

Foto: EPA-EFE/MIKHAIL METZEL / KREMLIN POOL / SPUTN
Barat miliki kecenderungan menghukum secara ekonomi negara yang tak sesuai arus utama

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengkritik sikap Barat yang masih berpegang pada kekuatan geopolitik usang.  Dia mengkritik elit Barat karena mengabaikan fakta bahwa, dalam beberapa dekade terakhir telah muncul poros kekuatan baru.

"Mereka menolak untuk memperhatikan hal-hal yang jelas, sementara dengan keras kepala berpegang teguh pada bayang-bayang masa lalu. Misalnya, mereka percaya bahwa dominasi Barat dalam politik dan ekonomi global tidak berubah dan abadi. Tidak ada yang abadi," ujar Putin, dilansir Anadolu Agency, Sabtu (18/6).

Baca Juga

Putin mengatakan, ekonomi global sedang melalui periode yang sulit karena upaya Barat untuk melestarikan ilusi geopolitik yang usang. Putin menjelaskan, setelah memproklamirkan kemenangan dalam Perang Dingin, Amerika Serikat (AS) menyatakan dirinya sebagai "utusan Tuhan di Bumi". Menurut Putin, kelemahan AS terletak pada konsep tersebut. 

Putin mengatakan, AS telah membangun kekuatan dengan lingkaran sekutu yang terbatas. Amerika Serikat memberikan akses kepada negara sekutu untuk bisnis dan hubungan internasional. Menurut Putin, sistem tersebut membuat negara-negara Barat bekerja dalam satu arah. 

"Ini ditafsirkan semata-mata untuk kepentingan kekuasaan. Mereka pada dasarnya bekerja dalam satu arah, dalam permainan zero-sum. Dunia yang dibangun di atas doktrin semacam itu pasti tidak stabil,” ujar Putin. 

“Mereka menganggap segalanya sebagai daerah terpencil, atau halaman belakang mereka.  Mereka masih memperlakukan mereka seperti koloni, dan orang-orang yang tinggal di sana, seperti orang kelas dua, karena mereka menganggap diri mereka luar biasa.  Jika mereka luar biasa, itu berarti orang lain adalah kelas dua," kata Putin menambahkan.

Putin mengatakan, Barat memiliki dorongan untuk menghukum suatu negara secara ekonomi dan menghancurkan siapa saja yang tidak sesuai dengan arus utama. Selain itu, Barat memaksakan etika, termasuk pandangan mereka tentang budaya dan ide-ide tentang sejarah. 

Putin mengatakan, Barat juga mempertanyakan kedaulatan dan integritas suatu negara sebagai contoh Yugoslavia, Suriah, Libya dan Irak. Bahkan, jika ada negara "pemberontak" yang tidak dapat ditekan maka Barat akan mencoba mengisolasi mereka di semua bidang, termasuk olahraga, budaya, dan seni.

“Ini adalah sifat dari putaran Russophobia saat ini di Barat, dan sanksi gila terhadap Rusia. Mereka gila dan, menurut saya, tidak bijaksana," ujar Putin.

Putin mengatakan, Barat telah menjatuhkan sanksi keras terhadap industri Rusia, dan keuangan. Termasuk penarikan paksa perusahaan-perusahaan Barat, dan pembekuan aset dengan tujuan untuk menghancurkan ekonomi Moskow. Namun Putin mengklaim bahwa, sanksi yang dijatuhkan Barat tersebut tidak berhasil. Perekonomian Rusia masih berjalan dengan baik.

“Jelas itu tidak berhasil. Pengusaha dan pihak berwenang Rusia telah bertindak secara kolektif dan profesional, dan orang Rusia telah menunjukkan solidaritas dan tanggung jawab,” kata Putin.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA