Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Covid-19 Tambah 1.173, Menkes Prediksi Puncak Kasus di Angka 20 Ribu

Kamis 16 Jun 2022 18:53 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Agus raharjo

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan keterangan pers usai mengikuti rapat terbatas terkait PPKM di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (13/6/2022). Pemerintah mengonfirmasi temuan delapan kasus varian baru COVID-19 yaitu BA.4 dan BA.5 di Indonesia dimana tiga diantaranya adalah kasus kedatangan luar negeri sementara lima sisanya merupakan penularan transmisi lokal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan keterangan pers usai mengikuti rapat terbatas terkait PPKM di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (13/6/2022). Pemerintah mengonfirmasi temuan delapan kasus varian baru COVID-19 yaitu BA.4 dan BA.5 di Indonesia dimana tiga diantaranya adalah kasus kedatangan luar negeri sementara lima sisanya merupakan penularan transmisi lokal.

Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
BA.4 dan BA.5 juga bisa menginfeksi ulang orang yang sudah pernah terinfeksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Penambahan kasus Covid-19 di Indonesia pada Kamis (16/6/2022) masih bertahan di angka seribu. Berdasarkan data Satgas Covid-19, sebanyak 1.173 kasus baru pada hari ini.

DKI Jakarta kembali menyumbang jumlah kasus terbanyak dengan total 696. Disusul Jawa Barat dengan penambahan 158 kasus, kemudian Banten dengan total penambahan 145 kasus.

Baca Juga

Jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia pada hari ini mencapai 6.668 kasus, bertambah 661 dari sehari sebelumnya. Untuk jumlah yang sembuh dari kasus Covid-19 pada hari ini bertambah 509 orang sehingga menjadi sebanyak 5.901.083 orang.

Sedangkan jumlah orang yang meninggal akibat Covid-19 di Indonesia bertambah 4 orang. Total yang meninggal karena Covid-19 menjadi sebanyak 156.673 orang.

Kementerian Kesehatan menganalisis kenaikan kasus saat ini disebabkan subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 yang telah masuk ke Indonesia. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin memprediksi puncak kasus dua varian baru ini akan ada di angka 20 ribu kasus per hari.

"Jadi kita amati, Afrika Selatan pertama kali BA.4dan BA.5 masuk, puncaknya sepertiga dari puncaknya omicron atau delta sebelumnya," tutur Budi di Jakarta, Kamis (16/6/2022).

"Jadi kalau kita delta dan omicron puncaknya di 60 ribu kasus sehari. Kira-kira estimasi ya berdasarkan data di Afrika Selatan mungkin puncaknya kita di 20 ribu per hari karena kita pernah sampai 60 ribu per hari paling tinggi," sambung Budi.

Epidemiolog dari Griffith University, Australia Dicky Budiman mengatakan, subvarian BA.4 dan BA.5 terdiri dari kombinasi kecepatan menginfeksi omicron dan kemampuan mengikat sel dari Delta. BA.4 dan BA.5 adalah subvarian omicron, jadi masih bagian dari Omicron walaupun karakternya sudah sangat berbeda dari BA.1 dan BA.2.

“BA.4 atau khususnya BA.5 ini dia memiliki karakter yang merupakan kombinasi antara kecepatan menginfeksi yang dia warisi dari omicron leluhurnya dan dia mengadopsi juga mutasi dari Delta L452 yang membuat dia mudah terikat di receptor ACE2 dan mudah masuk ke dalam sel tubuh manusia untuk menginfeksi dan akhirnya mudah untuk bereplikasi di paru,” tutur Dicky.

Ini yang membuat sebagian gejala orang yang terinfeksi BA.4 dan BA.5 khususnya yang belum divaksinasi lengkap terlihat hampir mirip dengan gejala Delta. “Misalnya hilang penciuman, rasa lelah, dan pada kasus yang berat bisa seperti Delta, harus dibawa ke rumah sakit, ini merujuk data di Portugal," kata Dicky.

Selain itu, BA.4 dan BA.5 juga bisa menginfeksi ulang orang yang sudah pernah terinfeksi. Riset terakhir yang dilakukan di Jepang dan beberapa negara Eropa melaporkan BA.4 dan BA.5 mengalami peningkatan kemampuan bereplikasi di sel paru.

"Kedua subvarian omicron ini lebih fusogenik dan lebih patogenik ketimbang BA.2. Artinya potensi keparahannya lebih infeksius dan potensi keparahannya ada,” ujar Dicky.

Dicky juga mengungkapkan, laboratorium di Jepang juga menemukan angka reproduksi efektif dari subvarian BA.4 dan BA.5 ini 1,2 kali lebih tinggi dari BA.2 atau yang sebelumnya mendominasi dunia. Artinya transmisi atau penularannya lebih efektif.

"Karena jika angka reproduksi di atas satu, artinya ada pertumbuhan eksponensial yang bisa terjadi," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA