Selasa 14 Jun 2022 05:02 WIB

Emisi Karbon yang Terus Naik dan Maknanya Bagi Kehidupan

Emisi karbon membuat bumi makin panas, iklim tak menentu dan bencana semakin sering.

Banjir Rob masih menggenangi kawasan berikat di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu yang lalu. Foto ilustrasi
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Banjir Rob masih menggenangi kawasan berikat di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu yang lalu. Foto ilustrasi

Oleh : Dwi Murdaningsih, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Observatorium Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika (NOAA) melaporkan kadar karbondioksida yang cukup mengejutkan. Kadar karbondioksida yang diukur di Mauna Loa Atmospheric Baseline Observatory NOAA menunjukkan 420 bagian per sejuta (ppm) pada bulan Mei 2022.

Di ketinggian 3.400 meter di atas permukaan laut, observatorium mengambil sampel udara yang tidak terganggu oleh pengaruh polusi atau vegetasi lokal. Hasil dari pengamatan ini dianggap mewakili keadaan rata-rata atmosfer di belahan bumi utara.

Menurut NOAA, tingkat karbon dioksida yang dilaporkan tersebut sebanding dengan Pliocene Climatic Optimum, antara 4,1 dan 4,5 juta tahun yang lalu. Saat itu, kadar karbondioksida mendekati, atau di atas 400 ppm. Berdasarkan data itu artinya selama jutaan tahun emisi karbon tidak pernah mencapai setinggi ini.

Emisi telah menyebabkan suhu Bumi naik ke tingkat yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor alam. Tampak mengerikan ya? Ya, kita sebenarnya dapat melihat dampak perubahan iklim dan dampak kenaikan suhu ini di sekitar kita setiap hari.

Contohnya saja peristiwa banjir rob yang menggenangi pantai utara jawa (pantura) sekira dua pekan lalu atau sejak 25 Mei 2022.

Rob yang melanda pesisir pantura di wilayah Jawa Tengah pada dua pekan lalu menegaskan bahwa ancaman pasang nya air laut dapat menimbulkan kerugian besar tidak kalah dengan banjir yang diakibatkan oleh hujan deras.

Rob atau pasang nya air laut merupakan hal yang lumrah dalam siklus alam atau fenomena astronomi. Ada kalanya air di lautan pasang dan adakalanya surut. Namun, perlu disadari dengan iklim yang tidak menentu  penyebab rob pun kian kompleks.

Maka dari itu, rob harus dikelola dengan baik. Sebab, ada kemungkinan rob-rob di masa mendatang akan semakin sering dan semakin tinggi.

Jadi, daerah-daerah yang memang sudah biasa mengalami rob perlu membuat mitigasi dengan pembuatan tanggul-tanggul yang lebih tinggi. Ini adalah biaya atau konsekuensi yang harus kita bayar atas angka-angka yang disebutkan oleh NOAA tadi.

Laporan Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2021, kawasan Asia Tenggara akan mengalami dampak yang cukup parah. Kota-kota besar sepanjang pantai utara juga diprediksi semakin cepat tenggelam.

Salah satu yang menyebabkan kenaikan muka air laut sebagai penyebab banjir rob adalah pemanasan global. Pemanasan Global menyebabkan terjadi nya pencairan es di kutub utara maupun selatan yang jumlah berjuta ton yang akhirnya masuk ke laut. Jumlah yang besar ini tentu membuat muka air laut menjadi naik.

Di kota yang masih mempunyai pantai yang luas, hal ini mungkin tidak membawa dampak besar. Namun, bagi kota-kota yang memiliki pemukiman tepat di pinggir pantai ini menjadi masalah. Mereka tentu harus mempersiapkan diri di kala banjir rob datang. Dan kota-kota seperti ini banyak terdapat di Indonesia.

Peneliti ahli utama di Pusat Riset dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengatakan wilayah pesisir perlu mewaspadai siklus nodal pada 2034. Siklus ini yang dapat meningkatkan banjir pasang atau banjir rob.

Thomas menuturkan pemanasan global dan kenaikan pasang karena siklus nodal bulan 18,6 tahunan akan menjadi faktor gabungan yang akan meningkatkan banjir pasang atau banjir rob.

Dia mengatakan perlu dilakukan mitigasi jangka menengah untuk mengatasi efek siklus nodal bulan yang puncaknya diperkirakan pada 2034. Efek siklus nodal berpotensi meningkatkan pasang maksimum sehingga banjir rob lebih sering terjadi dengan ketinggian yang meningkat.

Dengan keadaan iklim dunia yang sudah semakin tak menentu, tak ada pilihan lain bagi kita semua untuk sesegera mungkin mengambil langkah. Bukan hanya soal pencegahan dan mitigasi bencana akibat iklim saja, tapi saatnya beralih mengambil langkah sampai ke akar yakni mengurangi emisi karbon sebanyak-banyaknya yang kita bisa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement