Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Ukraina Tuding Rusia Curi 600 Ribu Ton Gandum

Rabu 08 Jun 2022 23:18 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Gandum (Ilustrasi). Dunia akan tetap kekurangan gandum untuk beberapa waktu meskipun blokade pelabuhan dicabut oleh Rusia. Ukraina butuh sekitar enam bulan untuk membersihkan ranjau di perairan di sekitar pelabuhan Laut Hitam.

Gandum (Ilustrasi). Dunia akan tetap kekurangan gandum untuk beberapa waktu meskipun blokade pelabuhan dicabut oleh Rusia. Ukraina butuh sekitar enam bulan untuk membersihkan ranjau di perairan di sekitar pelabuhan Laut Hitam.

Foto: EPA-EFE/KHALED ELFIQI
Gandum-gandum itu diklaim dicuri dari wilayah Ukraina yang diduduki paksa Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Rusia telah mencuri sekitar 600 ribu ton gandum dari wilayah pendudukan Ukraina dan mengekspor sebagian lainnya. Demikian disampaikan wakil kepala serikat produsen pertanian Ukraina UAC, Rabu.

"Ukraina akan menuntut Rusia memberikan kompensasi atas pencurian gandum dan perusakan properti petani," kata wakil kepala UAC Denys Marchuk kepada televisi Ukraina.

Baca Juga

Menurut Marchuk, sampai saat ini, sekitar 600 ribu ton gandum telah dicuri dari perusahaan pertanian dan dibawa ke wilayah semenanjung Krimea yang diduduki sementara dan dari sana dipindahkan ke pelabuhan, khususnya ke Sevastopol, dan dari sana, kapal pergi ke Timur Tengah.

Dia mengatakan sekitar 100 ribu ton gandum telah dikirim ke Suriah. Ini menurut bukti yang "direkam oleh Amerika Serikat".

Marchuk tidak memberikan detail tambahan. Sementara Reuters tidak dapat memverifikasi klaim tersebut.

Ukraina adalah salah satu pengekspor gandum terbesar di dunia, dan negara-negara Barat menuduh Rusia menciptakan risiko kelaparan global dengan menutup pelabuhan Ukraina yang terletak di Laut Hitam.Di lain pihak, Rusia menyangkal bertanggung jawab atas krisis pangan internasional dan justru menyalahkan sanksi Barat.

sumber : Reuters/antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA