Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

Melawan Nafsu dan Kisah Zuhud yang Berhasrat Bangun Masjid  

Selasa 07 Jun 2022 00:10 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi masjid di Turki. Jihad melawan nafsu merupakan kunci menuju kesuksesan

Ilustrasi masjid di Turki. Jihad melawan nafsu merupakan kunci menuju kesuksesan

Foto: AP/Francisco Seco
Jihad melawan nafsu merupakan kunci menuju kesuksesan

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen di STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, — Terlepas dari perbedaan pendapat tentang status hadits : “Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar yaitu jihad (melawan) nafsu…”, namun substansi yang terkandung di dalamnya bahwa jihad melawan nafsu adalah jihad akbar benar adanya. Tentu tanpa memandang ringan jihad melawan musuh di medan perang. 

Bagaimana tidak? Jihad melawan nafsu artinya jihad melawan diri sendiri yaitu keinginan-keinginannya dan hal-hal yang disukainya. Karena itu, ketika seseorang menang dalam jihad ini dia akan melakukan sesuatu yang tampak ‘mustahil’.   

Baca Juga

Di Turki ada sebuah masjid bernama Sanki Yedim Cami. Artinya lebih kurang yaitu “Seolah-olah aku sudah memakannya.” Masjid ini dibangun di masa kekhilafahan Turki Utsmani pada abad 17 M oleh seorang laki-laki bernama Khairuddin Afandi.  

Dia hanya laki-laki biasa. Bukan ulama, bukan juga orang kaya. Tapi dia punya tekad untuk membangun sebuah masjid di daerah tempat dia tinggal. 

Setiap pergi ke pasar, dia melihat berbagai jenis makanan yang lezat dan buah-buahan yang segar yang tentu saja sangat menggoda nafsu perutnya. Tapi dia ingat tekad dirinya untuk membangun sebuah masjid. 

Akhirnya setiap melihat makanan dan buah-buahan itu, dia hanya membayangkan dirinya menikmati makanan dan buah-buahan itu sambil berkata dalam dirinya: “Sanki yedim cami… (seolah-olah aku sudah memakannya).” Lalu uang yang bisa saja dia belanjakan untuk membeli makanan dan buah-buahan itu dia simpan dan tabung.  

Begitulah setiap dia pergi ke pasar dan melihat makanan yang menggoda seleranya. Dia cukup membayangkan seolah-olah dia sudah menikmati makanan itu lalu uang yang bisa saja dia belanjakan untuk membelinya dia simpan dan tabung.  

Hal itu berlangsung bertahun-tahun. Dia selalu menahan hasrat untuk membeli makanan dan buah-buahan, kecuali untuk kebutuhan pokok, demi mewujudkan cita-cita besar membangun sebuah masjid. 

Setelah terkumpul jumlah yang agak lumayan mulailah dia mewujudkan mimpinya. Ternyata dia tak sendiri. Dia dibantu oleh sahabatnya Muhammad Syauqi Afandi. Masyarakat yang mendengar kisah Khairuddin Afandi akhirnya turun tangan untuk mewujudkan mimpi besar ini. 

Khairuddin Afandi wafat sebelum masjid impiannya rampung. Tapi kisah dan semangatnya telah menginspirasi banyak orang. Untuk mengenang jasa dan perjuangannya, masyarakat sepakat menamai masjid ini dengan Sanki Yedim Cami. 

Sementara itu, suatu hari Umar bin Khattab RA melihat putranya Ashim sedang makan daging. Bagi Umar, seorang yang zuhud dan wara’, memakan daging adalah tanda menyenangkan diri yang menjadi indikasi kekalahan melawan dirinya sendiri 

Dia  bertanya pada anaknya, “Apa ini?” Anaknya menjawab, “Kami rindu (bahasa Minangnya; taragak) makan daging.” Mendengar itu Umar berkata:        

وَكُلَّمَا قَرِمْتَ إِلَى شَيْءٍ أَكَلْتَهُ، كَفَى بِالْمَرْءِ سَرَفًا أَنْ يَأْكُلَ كُلَّ مَا اشْتَهَى 

“Apakah setiap ‘taragak’ sesuatu engkau langsung makan? Cukuplah menjadi sebuah saraf (berlebih-lebihan) ketika seseorang memakan semua yang dia sukai.” 

أعاننا الله على أنفسنا     

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA