Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

Kena Sanksi Eropa, CEO Mesin Pencari Terpopuler di Rusia Mundur

Senin 06 Jun 2022 15:10 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Yandex, mesin pencari terpopuler di Rusia

Yandex, mesin pencari terpopuler di Rusia

Foto: tangkapan layar
CEO Yandex mendapat sanksi dari Eropa setelah dituduh membantu Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- CEO Yandex Arkady Volozh mundur dari jabatannya. Dia mundur tidak lama setelah Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepadanya karena membantu Rusia.

Volozh mendirikan raksasa internet Rusia ini pada 1997. Yandex mengumumkan pengunduran diri Volozh pada Jumat (3/6/2022) waktu setempat seperti dikutip dari Reuters, Senin (6/6/2022).

Baca Juga

Uni Eropa mengenakan sanksi kepada Volozh atas tuduhan membantu Rusia menyerang Ukraina secara "material atau finansial" .Dia mengatakan tuduhan Komisi Eropa tersebut sebagai "salah alamat". Meski pun ada sanksi, kata Volozh, dia menyerahkan pemungutan suara kepada direksi perusahaan.

Perusahaan Yandex tidak menjadi subjek sanksi Uni Eropa. Perusahaan mesin pencari tersebut menyatakan yakin pengunduran diri Volozh tidak berpengaruh terhadap operasi, keadaan finansial dan hubungan mereka dengan mitra.

"Direksi terus berfungsi secara normal. Yandex memiliki tim manajemen yang kuat, yang mampu membawa perusahaan ini ke tingkat berikutnya dengan dukungan yang kuat dari dewan," kata Yandex.

Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari, mereka menyebut agresi tersebut sebagai "operasi militer khusus" untuk "denazifikasi" negara tetangga mereka.

sumber : Antara
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA