Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Wapres: Perguruan Tinggi Keagamaan Harus Jadi Pusat Pendidikan Islam Moderat

Ahad 05 Jun 2022 07:47 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Muhammad Fakhruddin

Wakil Presiden KH Ma

Wakil Presiden KH Ma

Foto: ANTARA/Syaiful Arief
Kemajemukan bangsa Indonesia dewasa ini juga makin diuji.

REPUBLIKA.CO.ID,JOMBANG -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengingatkan Indonesia memiliki tantangan besar dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan masyarakatnya yang terdiri dari berbagai etnis, suku, budaya, dan agama. Karena itu, Wapres menilai peran perguruan tinggi berbasis keagamaan penting untuk menjadi pusat pendidikan Islam yang moderat dan toleran.

Karenanya, saat meresmikan Gedung Baru Universitas K.H. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Wapres berharap UNWAHA melahirkan cendekiawan muslim yang unggul dalam merekatkan persatuan bangsa.

Baca Juga

"UNWAHA (harus) turut serta menjadikan Indonesia sebagai episentrum pendidikan Islam yang moderat dan toleran, dengan mencetak insan teladan bagi generasi muslim global, yakni generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademis tetapi juga mampu menebarkan toleransi dan berperan aktif dalam kehidupan sosial," ujar Wapres saat meresmikan Gedung Baru UNWAHA, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (4/6/2022).

Terlebih, kata Wapres, kemajemukan bangsa Indonesia dewasa ini juga makin diuji dengan timbulnya riak-riak dari aksi segelintir kelompok dengan menyebarkan paham-paham yang dapat merusak tatanan kehidupan bangsa yang berlandaskan Pancasila.

Menurutnya, sebagai tempat berkumpulnya intelektual-intelektual Islam, UNWAHA harus mampu mengambil peranan yang lebih besar dalam mengedukasi masyarakat. Khususnya, umat yang awam ilmu agama dan mudah terpengaruh pada ajakan-ajakan yang mengarah pada rusaknya ikatan sebagai bangsa dalam kerangka NKRI.

Wapres mengungkapkan, saat ini masih ada pihak-pihak yang mencoba mempertentangkan antara Islam kaffah (menyeluruh) dengan kebangsaan. Menurutnya, ada pihak yang lebih menekankan penerapan ajaran Islam secara kaffah sehingga menolak kebangsaan, dan sebaliknya ada juga pihak yang lebih menekankan kebangsaan sehingga menolak ajaran Islam. 

“Saya kira sesuai dengan ajaran para ulama, termasuk K.H. Abdul Wahab Hasbullah, bahwasanya muslim kaffah tidak harus kehilangan kebangsaan. Dan orang yang berpegang pada kebangsaan tidak berarti tidak boleh menjadi muslim kaffah," katanya.

Untuk itu, Wapres meminta UNWAHA terus mencetak generasi muslim yang tidak hanya mampu menerapkan ajaran Islam secara kaffah tetapi juga menghargai kesepakatan kebangsaan mistsaq.

“Yang saya harapkan adalah kita melahirkan muslim kaffah ma’al mitsaq, artinya dia Islamnya kaffah tapi juga memiliki mitsaq, (yakni) menjaga kesepakatan-kesepakatan nasional atau yang disebut al mitsaqul wathoni yaitu kesepakatan nasional tentang pendirian Republik ini dengan didasari Pancasila dan juga UUD 1945,” ujarnya.

Wapres pun berpesan agar UNWAHA terus berperan aktif dalam mencerdaskan manusia Indonesia seutuhnya, dengan menanamkan karakter Islami. Namun, pada saat yang sama juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai media menuju kemaslahatan dan kemajuan bangsa.

"Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mutlak diperlukan, tetapi jangan sampai tidak diimbangi dengan penguasaan iman dan taqwa (imtaq). Keduanya harus senantiasa berjalan selaras dan saling melengkapi," katanya.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA