Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Wagub Bali Harapkan Tanjung Benoa Jadi Contoh Kesiapsiagaan Tsunami

Ahad 29 May 2022 18:03 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Delegasi menyaksikan siswa melakukan simulasi evakuasi bencana gempa bumi saat kunjungan lapangan dalam rangkaian Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di SMP Negeri 3 Kuta Selatan, Tanjung Benoa, Badung, Bali, Sabtu (28/5/2022). Wagub Bali mengharapkan Tanjung Benoa menjadi contoh kesiapsiagaan bencana tsunami.

Delegasi menyaksikan siswa melakukan simulasi evakuasi bencana gempa bumi saat kunjungan lapangan dalam rangkaian Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di SMP Negeri 3 Kuta Selatan, Tanjung Benoa, Badung, Bali, Sabtu (28/5/2022). Wagub Bali mengharapkan Tanjung Benoa menjadi contoh kesiapsiagaan bencana tsunami.

Foto: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Wagub Bali mengharapkan Tanjung Benoa menjadi contoh kesiapsiagaan bencana tsunami.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengharapkan Kelurahan Tanjung Benoa di Kabupaten Badung dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami.

"Penerimaan pengakuan internasional Tsunami Ready Community bukanlah merupakan akhir dari kegiatan yang membuat kita larut dalam kebanggaan dan euforia yang berlebih," kata Oka.

Baca Juga

Oka mengemukakan hal itu saat menyampaikan sambutan serangkaian kegiatan pengesahan dan penyerahan Sertifikat Internasional Tsunami Ready Community dari UNESCO-IOC kepada Kelurahan Tanjung Benoa.

Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Kantor UNESCO Jakarta Muhamed Djelid didampingi Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia Dwikorita Karnawati dan UNESCO-IOC Tsunami Unit Denis Chang Seng kepada Lurah Tanjung Benoa I Wayan Sudiana.

"Pengakuan internasional ini merupakan awal dari kerja yang berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat yang tanggap dan tangguh dalam menghadapi ancaman bencana tsunami," ucap wagub yang biasa disapa Cok Ace itu.

Ke depan, lanjut dia, Kelurahan Tanjung Benoa diharapkan dapat menjadi "role model" atau contoh bagi desa kelurahan pesisir lainnya di seluruh Indonesia.

"Tentunya yang mereplikasi nilai dan pengetahuan kebencanaan untuk selanjutnya disinergikan dengan kearifan lokal di daerah masing-masing-masing," ujarnya.

Cok Ace menambahkan bahwa Bali memiliki banyak nilai kearifan lokal yang dapat diterapkan dalam pengurangan risiko bencana dengan mengedepankan upaya menjaga kesucian dan keharmonisan alam beserta isinya.

"Hal ini telah diterjemahkan ke dalam visi Pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang mempunyai makna menjaga keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama (masyarakat) dan gumi Bali yang sejahtera dan bahagia sekala niskala (jasmani dan rohani)," ucapnya.

Pengakuan internasional Tsunami Ready Community merupakan bukti praktik baik pengurangan risiko bencana di Indonesia kepada dunia. Tsunami Ready Community Kelurahan Tanjung Benoa diharapkan menjadi pendukung bagi promosi pariwisata Indonesia dan Bali khususnya, yang tentu dapat bermanfaat pada pemulihan pariwisata dan ekonomi Bali, sehingga terbangun ketangguhan bencana Bali.

"Bencana alam tidak akan pernah dapat diduga terkait waktu dan tempatnya. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap bencana dan tanggap darurat wajib dimiliki," kata Cok Ace.

Direktur Kantor UNESCO Jakarta Muhamed Djelid dalam sambutannya menyampaikan sosialisasi agar tumbuh kewaspadaan pada setiap individu membutuhkan kerja nyata bukan hanya teori semata.

"Tanjung Benoa memiliki indikator-indikator yang dibagi dalam tiga kategori besar yakni penilaian, kesiapan, dan respons yang baik," ujarnya.

Di antaranya pemetaan dan penetapan zona bahaya tsunami, perkiraan jumlah orang yang berisiko di zona bahaya tsunami, identifikasi sumber daya ekonomi, infrastruktur, politik, dan sosial serta peta evakuasi tsunami yang mudah dipahami.

Selanjutnya informasi tsunami termasuk tanda-tanda yang ditampilkan untuk umum, keterjangkauan ketersediaan dan pendistribusian sumber daya kesadaran publik dan pendidikan, serta kegiatan sosialisasi atau pendidikan diadakan minimal tiga kali dalam setahun.

Selain itu, latihan tsunami komunitas dilakukan setidaknya dua tahun sekali, adanya rencana tanggap darurat tsunami komunitas, tersedianya kapasitas untuk mengelola operasi tanggap darurat selama tsunami, serta sarana untuk menyebarkan peringatan tsunami resmi 24 jam kepada publik secara tepat waktu.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA