Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Kunjungan Lemhanas Inggris Dinilai Positif dalam Keberhasilan Indonesia Mencegah Terorisme

Ahad 29 May 2022 16:35 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Kepala BNPT Boy Rafli Amar (kiri) menerima kunjungan Royal College of Defense Studies Ingris yang dipimpin komandannya  Sir George Norton di Kantor BNPT, Jakarta Pusat.

Kepala BNPT Boy Rafli Amar (kiri) menerima kunjungan Royal College of Defense Studies Ingris yang dipimpin komandannya Sir George Norton di Kantor BNPT, Jakarta Pusat.

Foto: Dok. Kem
Sejak Bom Bali 2002, Indonesia kerap dianggap biangnya WoV.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kunjungan peserta  Royal College of Defense Studies (RCDS) - semacam Lemhanas Inggris - yang dipimpin langsung Komandannya Letnan Jenderal Sir George Norton  ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dinilai menegaskan pengakuan dunia akan keberhasilan Indonesia dalam pencegahan terorisme. Demikian disampaikan Robi Nurhadi, pengajar Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional.

Penerima PhD dari Center for History, Politic and Strategy UKM Malaysia dengan disertasi tentang Perbandingan Strategi Penanganan Terorisme antara Indonesia dan Malaysia tersebut, menilai bahwa apresiasi Lemhanas-nya Inggris dapat mengisi ruang kelemahan Indonesia dalam penanganan terorisme di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga

"Terorisme itu kejahatan transnasional. Ia menuntut penanganan yang integratif pada satu kawasan agar tidak terjadi celah kerawanan atau istilahnya Window of Vulnerability (WoV). Nah, sejak peristiwa Bom Bali 2002, Indonesia sering dianggap biangnya WoV. Maka kita banyak dibantu oleh negara-negara lain waktu itu. Dengan kehadiran Lembahas Inggris tersebut, menjadi poin penting. Itu artinya BNPT diakui keberhasilannya menutup celah-celah kerawanan aksi terorisme", ujar Robi Nurhadi yang juga Kepala Pusat Penelitian Pascasarjana UNAS tersebut.

Robi menilai apresiasi Lemhanas Inggris tersebut dengan 30 partisipasi dari berbagai negara adalah hal yang patut diapresiasi karena faktanya Indonesia saat ini jauh lebih stabil dibanding masa tahun 2002 hingga 2012 lalu dimana bom-bom terorisme datang silih berganti. 

"Alhamdulillah, saat ini Indonesia bisa menikmati kestabilan dari ancaman terorisme. Benih-benih terorisme telah ditransformasi menjadi benih-benih kerukunan beragama dan perdamaian yang dilandasi kemanusiaan yang tinggi. Tentu ini semua merupakan hasil dari kerja kolaboratif semua elemen masyarakat dan negara yang dikordinasi oleh BNPT," ujar Robi Nurhadi yang juga Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian MUI Pusat.

“Untuk itu kami juga sepakat dengan tagline yang diangkat oleh BNPT di bawah kepemimpinan Komjen Pol Boy Rafli Amar ini adalah Indonesia Harmoni, yaitu mengutamakakan upaya upaya yang membangun kerukunan serta mengambil persamaan dari berbagai perbedaan," kata Robi.

Robi berharap agar apresiasi dunia terhadap keberhasilan pencegahan terorisme tersebut membuat BNPT lebih kuat dalam membangun mekanisme pencegahan celah kerawanan internal agar langkah-langkahnya tidak kontraproduktif atas capaian prestasi hari ini.

"Belajar pada pengalaman yang lalu, BNPT harus selalu memastikan bahwa langkah-langkahnya tidak kontraproduktif bagi terciptanya dukungan masyarakat untuk menjadikan Indonesia sebagai Wilayah Bebas Terorisme," ujar Robi Nurhadi.

Adapun, menurut Boy, terorisme adalah kejahatan transnasional yang luar biasa. Oleh karena itu, mutlak diperlukan langkah bersama masyarakat internasional untuk membangun ketahanan melawan terorisme.

Hal tersebut disampaikan usai menerima kunjungan Komandan Royal College of Defense Studies (RCDS) Letjen Sir George Norton. RCDS adalah sebuah lembaga setingkat Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Indonesia.

Kepala BNPT mengibaratkan virus corona yang menjadi pandemi dunia, maka masyarakat internasional bersatu melawan pandemi hingga akhirnya mampu melewati ancaman secara baik dengan penemuan vaksin Covid-19.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA