Jumat 27 May 2022 00:35 WIB

Alumni Kecewa Sekolah di Bengaluru India Terlibat Provokasi Soal Masjid Gyanvapi

Institusi pendidikan seharusnya menjadi tempat berpikir yang bebas.

Rep: Mabruroh/ Red: Agus raharjo
Masjid Gyanvapi di Varanasi, Uttar Pradesh, India.
Foto: Reuters
Masjid Gyanvapi di Varanasi, Uttar Pradesh, India.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Kontroversi Masjid Gyanvapi masih memanas di Uttar Pradesh, India. Kontroversi ini semakin memanas dengan ikut campurnya lembaga pendidikan yang diduga ikut menyebarkan provokasi terhadap alumni untuk mengganti nama Masjid Gyanvapi menjadi Kuil Gyanvapi.

Dilansir dari Indian Express, Kamis (26/5/2022), para alumni dari sekolah Bengaluru dikagetkan surel yang tidak biasa. Surel itu bukan tentang acara dan kegiatan sekolah, melainkan permintaan mengganti nama masjid Gyanvapi menjadi kuil Gyanvapi di Google Maps mereka.

Baca Juga

Sekolah Umum New Horizon di Bengaluru telah mengeluarkan klarifikasi, mengatakan surel itu dikirim 'tanpa prosedur penyaringan yang tepat'. Tetapi tampaknya para alumni sudah terlanjur kecewa.

“Laporan email yang dikirim tentang tidak menghormati sentimen agama tertentu telah menjadi perhatian kami dan masalah ini sedang ditangani dengan prioritas tertinggi. Kami ingin mengklarifikasi bahwa email tersebut dikirim tanpa prosedur penyaringan yang tepat yang diperlukan dari semua komunikasi email kami. Kami bangga dengan keragaman budaya dan agama di India, kami mempraktikkan hal yang sama dalam huruf dan semangat setiap hari dengan semua yang kami lakukan di sekolah kami," kata pihak sekolah.

Surel itu berbunyi, “Permintaan kepada semua orang. Harap perbarui di peta Google sebagai Kuil Gyanvapi alih-alih Masjid Gyanvapi. Anda diminta untuk melakukannya dan meminta saudara dan saudari Hindu kami untuk melakukannya sampai google memperbarui perubahan ini. Silahkan buka google map. Cari Kuil Gyanvapi tetapi Anda akan melihatnya sebagai masjid gyanvapi. Sentuh /Klik – Sarankan edit. Sentuh – Ubah nama atau detail lainnya tulis sebagai “Kuil Gyanvapi” dan sebutkan sebagai “Kuil Hindu”.

Preethi Krishnamoorthy, seorang alumni yang berbasis di Hawaii, menerima surel kontroversial pada 20 Mei. Dia bahkan mengungkapkannya ke media sosial untuk mengekspos tindakan 'mengejutkan' sekolah tersebut. Ia mengaku kaget dengan surel yang dikirimkan ke alumni soal permintaan ekstrem tersebut.

“Sebuah sekolah seharusnya mengajarkan siswanya untuk berpikir kritis, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang berakal yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah berdasarkan informasi yang disajikan kepada mereka," kata Krishnamoorthy.

Institusi pendidikan mana pun lanjut dia, harus menjadi tempat untuk berpikir bebas, tidak seperti email yang dikirimkan oleh Sekolah Umum New Horizon yang ditujukan untuk mencuci otak generasi muda untuk patuh dan tidak berpikir.

Email tersebut merupakan bagian dari email alumni yang diterima oleh mahasiswa yang telah mendaftar. Menurut Krishnamoorthy, sekolah juga telah mengirim email selama perilisan 'The Kashmir Files'.

Email tersebut berisi teks-teks yang mendorong para alumni untuk menonton film dan juga menyamakan beberapa insiden dan karakter film dengan Mahabharata. Hanya 3-4 buletin yang dikirim ke siswa dalam setahun. Sebagian besar buletin terkait dengan pertemuan dan peristiwa yang terjadi di sekolah.

Seorang alumni, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan email tentang kontroversi masjid Gyanvapi telah mengganggunya secara pribadi. Ada beberapa email yang dikirimkan oleh pihak sekolah secara berturut-turut.

"Email pertama di ‘The Kashmir Files’ sangat aneh dan saya merasa aneh bahwa sebuah sekolah mempromosikan film. Email kedua tentang masjid sangat mengganggu. Saya telah berhenti membaca berita setelah kontroversi tentang azan dan sekarang kejadian ini semakin mengganggu saya. Saya telah berhenti berlangganan buletin. Banyak kenangan sekolah saya sekarang hancur setelah kejadian ini. Saya merasa dikecewakan,” kata alumnus tersebut.

Menurut pejabat di kantor polisi Kothanur, manajemen sekolah mengklaim bahwa grup WhatsApp palsu telah dibuat dan surat yang diduga diedarkan di grup yang berbeda. Meski manajemen dilaporkan telah mendekati polisi, sejauh ini belum ada kasus yang tercatat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement