Kamis 26 May 2022 09:22 WIB

PMK yang Membuat Peternak Sapi Ketar-Ketir

Kekhawatiran akan adanya pengetatan terkait pengiriman sapi menghantui peternak.

Peternak sapi dihantui penyakit PMK jelang Idul Adha. Foto sapi yang mengalami penurunan berat badan akibat terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di karantina oleh peternak di Desa Jeulekat, Lhokseumawe, Aceh, Rabu (25/5/2022).
Foto: ANTARA/Rahmad
Peternak sapi dihantui penyakit PMK jelang Idul Adha. Foto sapi yang mengalami penurunan berat badan akibat terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di karantina oleh peternak di Desa Jeulekat, Lhokseumawe, Aceh, Rabu (25/5/2022).

Oleh : Ilham Tirta, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Momentum Lebaran Idul Adha atau Idul Kurban sudah dinantikan oleh para peternak di seluruh tanah air. Di kampung dan desa, mereka telah menyiapkan ternaknya sejak Idul Adha tahun lalu berakhir.

Selain hasil ternak sendiri yang beranak pinak, mereka juga membeli tambahan bibit, biasanya sapi setengah matang, lalu dibesarkan menjadi sapi pedaging siap potong, tepat untuk waktu kurban.

Sapi-sapi itu tidak disiapkan untuk kurban di wilayahnya. Membawa sapi ke kota besar seperti Jakarta sudah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir, terutama bagi para peternak dari daerah jauh seperti NTT dan NTB. Keuntungannya menggiurkan karena langsung dibawa dan dijual sendiri dengan harga perkotaan.

Namun tahun lalu, keuntungan mereka sedikit tertahan oleh kondisi Ibu Kota yang sedang menghadapi Covid-19. Varian Delta yang ganas menyerang Indonesia tepat menjelang Idhul Adha. Akhirnya, upaya jual beli ribuan sapi yang masuk Jakarta terhambat. Banyak majelis dan masjid tidak leluasa melakukan kurban seperti biasanya karena aturan dan pengetatan.

Akibatnya, banyak peternak yang pulang dengan keuntungan seadanya, jika tidak mau menyebutnya hanya kembali modal. Energi yang dikeluarkan tak terhitung nilainya. Namun, para peternak itu selalu menatap tahun depan (tahun 2022 ini) untuk membayar keuntungan yang 'tertunda'. Modal lebih harus dikeluarkan.

Lalu, PMK tetiba muncul bulan lalu. Penyakit mulut dan kaki, yang klasik itu, seperti keluar dari kuburannya, menyerang hewan ternak. Sialnya, virus predator itu rupanya menjadikan sapi sebagai incaran favoritnya, seperti tidak rela daging-daging empuk itu menjadi santapan lezat perayaan Idul Kurban. Tidak lama setelah kemunculannya, tidak kurang dari 5.400 sapi di Jawa Timur dan Aceh menjadi korbannya. Sapi-sapi itu pun sakit, walaupun hanya sekian persen yang tumbang lalu mati.

Pada Rabu (11/5/2022), Kementerian Pertanian kemudian mengumumkan penguncian enam kabupaten di Aceh dan Jawa Timur yang terjangkit virus PMK pada sapi. Langkah itu ditempuh guna menghentikan penyebaran PMK lebih luas karena tingkat penularan yang sangat cepat.

Setiap hari setelah tanggal itu, banyak daerah lain mulai melaporkan adanya PMK di wilayahnya. Wabah PMK, khususnya pada sapi, seperti sudah mengintip peta Indonesia, dan ingin segera menguasainya. Per Selasa (24/5/2022), tercatat sudah 15 provinsi di Indonesia yang ditemukan kasus PMK pada sapi.

Pengalaman tahun lalu membuat para peternak, bukan perusahaan besar, menjadi ketar-ketir. Sebab, akan banyak aturan, apalagi pengetatan yang akan diberlakukan. Benar saja, saat ini wilayah Jatim dan Aceh tidak diperbolehkan mendatangkan atau mengeluarkan sapi ke wilayah lain. Jangankan masuk, bersandar sebentar di pelabuhan kedua provinisi itu pun akan diawasai ketat. Pengetatan juga dilakukan oleh setiap provinsi lain, minimal pemeriksaan berlapis terhadap sapi yang datang.

Banyak peternak di seluruh tanah air dipastikan harus kembali bersabar untuk tahun ini. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), walaupun bukan wilayah wabah PMK, pemerintah daerah tetap menyetop lalu lintas perdagangan sapi sejak dua pekan lalu. Namun sedikit beruntung, NTB tetap membolehkan pengiriman sapi melalui tol laut. Sebab, NTB memiliki kuota 16.500 ekor sapi yang harus dikirim ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan daging sapi Idul Adha 1443 Hijriah.

Jalur tol laut adalah kapal langsung dari NTB ke Pelabuhan Tanjuk Periok, Jakarta Utara. Lama perjalanan menurut adalah sekitar sepekan jika berangkat dari Pelabuhan Kota Bima. Namun, pengiriman 16 ribuan sapi melalui tol laut memiliki potensi masalah yang besar kalau tidak ditangani dengan baik.

Masalah paling utama adalah kesiapan armada. Sebab, tahun lalu saja, kapal tol laut di harus dipesan minimal sebulan sebelum keberangkatan dan dengan kuota yang terbatas. Padahal, saat itu hanya sekitar setengah dari kuota sapi yang ke Jakarta menggunakan tol laut. Setengahnya lagi menggunakan kapal sampai Surabaya, Jawa Timur dan ada juga yang memakai jalur darat dari Bima langsung ke Jakarta. Jika armada tetap terbatas, maka akan banyak peternak yang harus kehilangan kesempatan.

Satu bulan sebelum Idul Adha, para peternak mulai mempersiapkan keberangkatan sapi-sapi mereka ke Jakarta. Jika dulu mereka berangkat dengan kecemasan Covid-19, kini PMK muncul sebagai hantu baru. Dalam kecemasan itu, mereka hanya berharap tidak ada kejadian atau aturan yang mengagetkan dalam satu setengah bulan ke depan. Semoga…

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement