Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Jokowi: Indonesia Berhasil Tekan Kebakaran Hutan dan Lahan pada 2021

Rabu 25 May 2022 12:15 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Agus Yulianto

Presiden Joko Widodo mengatakan, selain kebakaran hutan dan lahan, Indonesia juga menghadapi berbagai potensi dan risiko bencana lainnya.

Presiden Joko Widodo mengatakan, selain kebakaran hutan dan lahan, Indonesia juga menghadapi berbagai potensi dan risiko bencana lainnya.

Foto: ANTARA/Biro Pers Setpres/Lukas
Kebakaran hutan dan lahan ini menjadi ancaman bagi Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut, Indonesia telah berhasil menurunkan kebakaran hutan dan lahan hingga seminim mungkin melalui berbagai upaya. Indonesia, kata dia, berhasil menurunkan bencana kebakaran hutan dari 2,6 juta hektare menjadi 358 ribu hektare di 2021.

Hal ini disampaikan Jokowi dalam acara opening ceremony the 7th Global Platform for Disaster Risk Reduction 2022 di Bali, Rabu (25/5/2022). “Dengan berbagai upaya, kebakaran hutan dan lahan bisa ditekan seminim mungkin. Dan tahun 2021, Indonesia telah berhasil merestorasi lahan gambut seluas 3,4 juta hektare, menjaga dan meretavilitasi hutan mangrove yang luasnya lebih dari 20 persen total area mangrove dunia sekitar 3,3 juta hektare,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, kebakaran hutan dan lahan ini menjadi ancaman bagi Indonesia. Bahkan Indonesia pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan yang terbesar pada 1997-1998 dan menhanguskan lebih dari 10 juta hektare lahan.

Selain kebakaran hutan dan lahan, Indonesia juga menghadapi berbagai potensi dan risiko bencana lainnya. Pada 2022 per 23 Mei, Jokowi menyebut telah terjadi bencana sebanyak 1.613 dan rata-rata dalam sebulan terjadi 500 kali gempa skala kecil maupun besar.

Gempa besar disertai tsunami terakhir yang terbesar terjadi di Palu pada 2018 dan menyebabkan 2.113 orang meninggal. Indonesia juga mempunyai 139 gunung api aktif yang juga mengancam masyarakat. Sepanjang 2015 hingga 2021, tercatat terjadi 121 letusan gunung berapi di Indonesia.

Tak hanya itu, pandemi Covid-19 yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini juga merupakan bencana terbesar di dunia. Pandemi ini menginfeksi 527 juta orang, menyebabkan korban jiwa sebanyak 6,3 juta orang dan menyebabkan 7,5 juta anak kehilangan orang tua.

“Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan dinamis sesuai situasi terkini, menjalankan kebijakan gas dan rem untuk menjaga keseimbangan visi kesehatan dan ekonomi, dan terbukti telah memberikan dampak yang baik,” ujarnya.

Dengan populasi yang mencapai 270 juta orang, Jokowi menyampaikan Indonesia telah menyuntikkan 411 juta dosis vaksin. Selain itu, kasus harian Covid-19 juga tercatat menurun tajam dari 64 ribu saat puncak kasus menjadi 345 kasus harian per Selasa (24/5/2022) kemarin.

Di tengah kondisi ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun tercatat sebesar 5,01 persen dan inflasi berada di level yang aman yakni 3,5 persen. Jokowi menegaskan, daya tahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana sangat menentukan angka kerugian yang harus ditanggung.

“Semakin tidak siap, semakin besar kerugiannya. Apalagi saat ini dunia sedang menghadapi climate change,” tambah dia.

Karena itu, ia menekankan, Pemerintah Indonesia dan masyarakat harus siaga dan sigap menghadapi bencana, membangun sistem peringatan dini multi bencana, serta perwujudan masyarakat yang sadar dan tangguh akan bencana.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA