Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Google Sebut Capaian Kecerdasan Buatan Hampir Saingi Manusia

Selasa 24 May 2022 16:39 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih

BlueDot Temukan Penyebaran Wabah Corona Mirip SARS (Foto: ilustrasi kecerdasan buatan)

BlueDot Temukan Penyebaran Wabah Corona Mirip SARS (Foto: ilustrasi kecerdasan buatan)

Foto: Flickr
Kecerdasan umum buatan bisa mengakibatkan bencana eksistensial bagi umat manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Peneliti utama Divisi AI DeepMind Google Dr Nando de Freitas mengungkapkan kecerdasan buatan (AI) tingkat manusia hampir tercapai. Para peneliti telah menghabiskan waktu selama beberapa dekade untuk mewujudkan kecerdasan umum buatan (AGI) setelah DeepMind meluncurkan sistem AI yang mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan rumit, mulai dari menyusun blok hingga menulis puisi.

“Gato AI baru DeepMind hanya perlu ditingkatkan untuk menciptakan AI yang mampu menyaingi kecerdasan manusia,” kata Dr de Freitas, dikutip Independent, Selasa (24/5/2022).

Baca Juga

Namun, peneliti AI terkemuka telah memperingatkan munculnya AGI dapat mengakibatkan bencana eksistensial bagi umat manusia. Profesor Universitas Oxford Nick Bostrom berspekulasi sistem supercerdas yang melampaui kecerdasan biologis dapat mengganti kehiduapan manusia di bumi.

Salah satu hal yang disorot adalah kedatangan sistem AGI yang mampu mengajar dirinya sendiri dan menjadi lebih pintar secara eksponensial dibandingkan manusia. Namun, Freitas mengatakan keselamatan merupakan hal terpenting saat dia mengembangkan AGI.

“Ini mungkin tantangan terbesar yang kami hadapi. Semua orang harus memikirkannya. Kurangnya keragaman yang cukup juga sangat mengkhawatirkan saya,” ujarnya.

Google mengakuisisi DeepMind yang berbasis di London pada tahun 2014.  Dalam makalah tahun 2016 berjudul Safely Interruptible Agents, para peneliti DeepMind menguraikan kerangka kerja untuk mencegah kecerdasan buatan tingkat lanjut mengabaikan perintah mematikan. Interupsi yang aman dapat berguna untuk mengendalikan robot yang berperilaku buruk dan dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak dapat diubah.

“Jika agen seperti itu beroperasi secara real time di bawah pengawasan manusia, terkadang mungkin perlu bagi operator manusia untuk mencegah agen melanjutkan tindakan yang berbahaya dan memimpin agen ke situasi yang lebih aman,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA