Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

China: AS Bermain Api dalam Isu Taiwan

Selasa 24 May 2022 09:55 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

Pemerintah China berang atas pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang menyebut AS siap mengerahkan kekuatan untuk membela Taiwan. Beijing menilai Washington sedang “bermain api”.

Pemerintah China berang atas pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang menyebut AS siap mengerahkan kekuatan untuk membela Taiwan. Beijing menilai Washington sedang “bermain api”.

Foto: AP/Nicolas Datiche/Pool SIPA
China menilai Washington sedang bermain api dengan pernyataan akan membela Taiwan

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Pemerintah China berang atas pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang menyebut AS siap mengerahkan kekuatan untuk membela Taiwan. Beijing menilai Washington sedang “bermain api”.

“Mencoba memainkan ‘kartu Taiwan’ dan ‘menggunakan Taiwan untuk mengendalikan China’ adalah bermain api. Mereka yang bermain api akan terbakar,” kata juru bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara China Zhu Fenglian, Senin (23/5/2022), dilaporkan kantor berita Xinhua.

Baca Juga

Dia menegaskan, isu Taiwan adalah urusan internal China. Beijing menolak adanya campur tangan asing dalam persoalan tersebut. “Prinsip ‘Satu China’ adalah dasar politik hubungan China-AS. Kami mendesak AS untuk berhenti membuat pernyataan atau mengambil tindakan apa pun yang melanggar prinsip Satu China, dan tidak melangkah lebih jauh ke jalan yang salah,” ucap Zhu.

Sebelumnya Joe Biden mengatakan negaranya siap mengerahkan kekuatan untuk membela Taiwan jika China menyerang wilayah tersebut. Pernyataan tersebut dinilai mematahkan ambiguitas sikap Washington perihal apakah ia akan membantu Taiwan bila diserang China.

Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida di Tokyo pada Senin (23/5/2022), Biden ditanya media apakah AS siap membela jika Taiwan diserang. Biden menjawab, “Ya”.

Biden mengatakan, itu adalah komitmen yang telah dibuat AS. “Kami setuju dengan kebijakan ‘Satu China’, kami menandatanganinya. Tapi gagasan bahwa Taiwan dapat diambil dengan paksa tidak tepat,” ujarnya.

Menurutnya, jika Taiwan diambil paksa, hal itu bakal memicu “dislokasi” di seluruh kawasan. “Dan akan menjadi tindakan lain yang serupa dengan Ukraina,” ucap Biden.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Taiwan mengapresiasi dan berterima kasih kepada Biden atas penegasan dukungan AS terhadapnya. Sementara Pemerinta China menentang dan mengkritik keras pernyataan Biden.

Di bawah kebijakan “Satu China”, AS hanya membuka hubungan diplomatik resmi dengan China. Namun selama ini, Washington juga mempertahankan hubungan “tidak resmi” yang kuat dengan Taiwan. AS bahkan lebih condong membela Taipei dalam perselisihannya dengan Beijing.

China diketahui mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Namun Taiwan berulang kali menyatakan bahwa ia adalah negara merdeka dengan nama Republik China. Taiwan selalu menyebut bahwa Beijing tidak pernah memerintahnya dan tak berhak berbicara atas namanya. Situasi itu membuat hubungan kedua belah pihak dibekap ketegangan dan berpeluang terseret ke dalam konfrontasi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA