Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

AS akan Kerahkan Kekuatan untuk Bela Taiwan

Senin 23 May 2022 21:50 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Presiden Joe Biden pada Senin (23/5/2022) mengatakan, Amerika Serikat (AS) akan menggunakan kekuatan untuk membela Taiwan.

Presiden Joe Biden pada Senin (23/5/2022) mengatakan, Amerika Serikat (AS) akan menggunakan kekuatan untuk membela Taiwan.

Foto: EPA-EFE/NICOLAS DATICHE
Sejauh ini tidak ada perubahan kebijakan AS terhadap Taiwan.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Presiden Joe Biden pada Senin (23/5/2022) mengatakan, Amerika Serikat (AS) akan menggunakan kekuatan untuk membela Taiwan. Sejauh ini tidak ada perubahan kebijakan AS terhadap Taiwan.

Pernyataan Biden tersebut diungkapkan dalam kunjungan pertamanya ke Jepang sejak menjabat sebagai presiden. Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, seorang reporter bertanya kepada Biden apakah Amerika Serikat akan membela Taiwan jika diserang. Presiden Biden kemudian menjawab, "Ya".

"Itu komitmen yang kami buat," kata Biden.

China menganggap Taiwan sebagai wilayahnya, di bawah kebijakan "satu China". China mengatakan itu adalah masalah paling sensitif dan penting dalam hubungannya dengan Washington. Sementara Biden mengatakan, AS sepakat dengan kebijakan satu China. Namun mengambil paksa wilayah Taiwan untuk menjadi kedaulatan dengan China adalah tindakan yang tidak adil.

"Kami setuju dengan kebijakan satu China. Kami telah menandatanganinya dan semua perjanjian yang dimaksudkan dibuat dari sana. Tetapi gagasan bahwa, itu dapat diambil dengan paksa, ini tidak adil dan tidak sesuai," ujar Biden.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, tidak ada perubahan kebijakan terhadap Taiwan. Sementara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, Amerika Serikat seharusnya tidak membela kemerdekaan Taiwan.

Pembantu keamanan nasional presiden bergeser di kursi mereka dan tampaknya mempelajari pernyataan Biden dengan cermat ketika dia menjawab pertanyaan tentang Taiwan.  Beberapa orang melihat ke bawah saat Biden membuat pernyataan sebagai komitmen yang jelas terhadap pertahanan Taiwan.  

Biden membuat komentar serupa tentang membela Taiwan pada Oktober.  Pada saat itu, juru bicara Gedung Putih mengatakan Biden tidak mengumumkan perubahan apa pun dalam kebijakan AS dan seorang analis menyebut komentar itu sebagai "kesalahan". Pensiunan kolonel Korps Marinir AS yang sekarang menjadi peneliti di Japan Forum for Strategic Studies, Grant Newsham, mengatakan, pernyataan Biden harus ditanggapi dengan serius.

"Pernyataan ini layak ditanggapi dengan serius. Ini adalah pernyataan yang cukup jelas bahwa AS tidak akan duduk diam jika China menyerang Taiwan," ujar Newsham.

Dalam undang-undang, Washington dapat memberikan sarana kepada Taiwan untuk membela diri. Ini menjadi  kebijakan "ambiguitas strategis" tentang campur tangan AS secara militer untuk melindungi Taiwan jika terjadi serangan China.

Kishida mengatakan kepada Biden bahwa, Jepang akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya. Hal ini akan mencakup "peningkatan yang cukup besar" dalam anggaran pertahanan.

Pensiunan laksamana Angkatan Bela Diri Maritim dan mantan komandan armada, Yoji Koda, mengatakan, peran Jepang dalam konflik apa pun atas Taiwan adalah untuk memungkinkan operasi AS dan membantu Amerika Serikat mempertahankan asetnya.  "Peran Jepang dalam hal itu akan sangat besar. Jepang adalah pendukung dari pencegahan keamanan itu," katanya.

Kishida mengatakan, dia telah memperoleh dukungan dari Biden agar Jepang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB di tengah meningkatnya seruan untuk reformasi dewan tersebut. Diketahui China dan Rusia adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

sumber : Reuters
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA