Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

100 Juta Orang Terusir dari Tempat Tinggalnya

Senin 23 May 2022 10:43 WIB

Rep: Dwina agustin/ Red: Friska Yolandha

 Pengungsi berjalan di perbatasan di Medyka, Polandia tenggara, setelah melarikan diri dari perang dari negara tetangga Ukraina, Ahad, 27 Maret 2022. United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR) mengatakan pada Senin (23/5/2022), lebih dari 100 juta orang telah diusir dari tempat tinggalnya di seluruh dunia.

Pengungsi berjalan di perbatasan di Medyka, Polandia tenggara, setelah melarikan diri dari perang dari negara tetangga Ukraina, Ahad, 27 Maret 2022. United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR) mengatakan pada Senin (23/5/2022), lebih dari 100 juta orang telah diusir dari tempat tinggalnya di seluruh dunia.

Foto: AP/Sergei Grits
Perang di Ukraina menjadi salah satu faktor yang mendorong jutaan orang mengungsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR) mengatakan pada Senin (23/5/2022), lebih dari 100 juta orang telah diusir dari tempat tinggalnya di seluruh dunia. Mereka yang melarikan diri dari kekerasan, konflik, penganiayaan, dan pelanggaran hak asasi manusia.

"Ini rekor yang seharusnya tidak pernah dibuat," kata Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

Badan pengungsi PBB ini menyatakan, perang di Ukraina telah menjadi salah satu faktor yang mendorong jutaan orang untuk melarikan diri. Konflik yang berkepanjangan di tempat-tempat seperti Ethiopia dan Republik Demokratik Kongo adalah faktor lain di balik tingginya angka tersebut.

"Ini harus menjadi peringatan untuk menyelesaikan dan mencegah konflik yang merusak, mengakhiri penganiayaan, dan mengatasi penyebab mendasar yang memaksa orang yang tidak bersalah meninggalkan rumah mereka," kata Grandi.

Data UNHCR terbaru ini terdiri dari pengungsi, pencari suaka, dan orang yang mengungsi di negara sendiri. Pekan lalu, Internal Displacement Monitoring Centre (IDMC) mengatakan, orang yang mengungsi di negara  sendiri telah mencapai rekor hampir 60 juta orang pada akhir tahun lalu.

Grandi mendesak tindakan untuk mengatasi penyebab perpindahan. Dia mengatakan bantuan kemanusiaan hanya menangani konsekuensinya. "Untuk membalikkan tren ini, satu-satunya jawaban adalah perdamaian dan stabilitas sehingga orang yang tidak bersalah tidak dipaksa untuk bertaruh antara bahaya akut di rumah atau pelarian berbahaya dan pengasingan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA