Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Hyperloop, Konsep Kereta Berkecepatan 1.200 Km/jam Mirip Terbang ke Luar Angkasa

Ahad 22 May 2022 16:45 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Hyperloop.

Hyperloop.

Foto: Mashable
Hyperloop memiliki visi untuk tidak meninggalkan jejak karbon sedikitpun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meluncur 1.200 km/jam secepat pesawat terbang di atas tanah dan tidak meninggalkan jejak karbon sedikitpun. Itulah visi Hyperloop yang diharapkan bisa mulai digunakan tahun 2030.

Bagaimanakah wujud perjalanan di masa depan? Bisakah kereta Hyperloop meluncur hingga 1.200 km/jam dan dengan aman mengangkut penumpang? Pertanyaan lainnya yang belum terjawab, apakah masih kurang cepat, atau apakah ini revolusi mobilitas?

Baca Juga

Hyperloop TT yang berbasis di California termasuk salah satu perusahaan yang berusaha memperbaiki konsep kereta super cepat. Mereka punya 800 orang pekerja di berbagai negara, dan menginvestasikan 31 juta Dolar untuk pembiayaan proyek. Namun, teknologi baru itu mula-mula masih perlu izin. Jadi sekarang perusahaan itu bekerjasama dengan lembaga inspeksi Jerman. 

Regulasi halus diperjelas terlebih dahulu

Manajer HyperloopTT Andrés de León mengungkapkan, perusahaannya punya masalah dengan regulasi. Sebab, karna teknologi kerap eksis sebelum peraturan dibuat. Sekarang mereka punya perusahaan pertama yang mengembangkan kerangka peraturan dengan TÜV Süd.

“Karena kalau tidak punya peraturan, mereka tidak akan bisa mengangkut orang atau barang dengan hyperloop."

Membuat jalur kereta hyperloop juga perlu dana sangat besar. Setiap satu kilometer treknya perlu biaya sekitar 60 juta Dolar. Rute yang direncanakan di India, yaitu dari Pune ke Mumbai akan berada di bawah tanah, sehingga biayanya lebih besar lagi, tetapi mengurangi risiko serangan teroris. Pembuatan rute itu akan menghabiskan biaya delapan milyar Dolar. Itu angka yang membuat investor takut. 

Andrés de Leon mengatakan, dia mendemonstrasikan, hyperloop bisa dibiayai secara swasta dan periode kembalinya modal sekitar 25 tahun. Jad, harganyai tidak bergantung pada subsidi dari pembayar pajak. Berdasarkan fakta statistik, harga tiketnya hanya 75 persen dari biaya tiket alat transportasi berbentuk apapun di kelompok yang sama.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA