Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Ilmuwan Ungkap Wabah Cacar Monyet di Eropa dan AS tak Sama dengan Cacar Monyet di Afrika

Ahad 22 May 2022 02:07 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Nidia Zuraya

Penyakit cacar monyet mengancam.

Penyakit cacar monyet mengancam.

Foto: republika
Saat ini ada sekitar 80 kasus cacar monyet yang dikonfirmasi di seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Para ilmuwan yang telah memantau banyak wabah cacar monyet di Afrika mengatakan mereka bingung dengan penyebaran penyakit baru-baru ini di Eropa dan Amerika Utara. Sehingga mereka selidiki penyebab wabah tersebut.

Dilansir dari AP pada Sabtu (21/5/2022), kasus penyakit terkait cacar sebelumnya hanya terlihat di antara orang-orang yang memiliki hubungan dengan Afrika tengah dan Barat. Tetapi dalam seminggu terakhir, Inggris, Spanyol, Portugal, Italia, AS, Swedia dan Kanada semuanya melaporkan infeksi, sebagian besar pada pria muda yang sebelumnya tidak pernah bepergian ke Afrika.

Baca Juga

Ada sekitar 80 kasus yang dikonfirmasi di seluruh dunia dan 50 lainnya yang dicurigai. Prancis, Jerman, Belgia dan Australia melaporkan kasus pertama mereka.

"Saya tercengang dengan ini. Setiap hari saya bangun dan ada lebih banyak negara yang terinfeksi,” kata Ahli Virologi sekaligus Akademi Sains Nigeria dan Dewan Penasihat WHO Oyewale Tomori.

Kemudian, ia melanjutkan ini bukan jenis penyebaran yang dilihat di Afrika Barat, jadi mungkin ada sesuatu yang baru terjadi di Barat. Hingga saat ini, tidak ada yang meninggal dalam wabah tersebut. 

Cacar monyet biasanya menyebabkan demam, menggigil, ruam dan luka di wajah atau alat kelamin. Ia memperkirakan penyakit ini berakibat fatal hingga satu dari 10 orang tetapi vaksin cacar bersifat protektif dan beberapa obat antivirus sedang dikembangkan.

Sementara itu, seorang Profesor Penyakit Menular Rolf Gustafsonb mengatakan sangat sulit untuk membayangkan situasinya akan memburuk."Kami pasti akan menemukan beberapa kasus lebih lanjut di Swedia, tetapi saya tidak berpikir akan ada epidemi dengan cara apapun. Tidak ada yang menyarankan itu saat ini," kata dia.

Lalu, Seorang Profesor Vaksinologi di Universitas Witwatersrand di Johannesburg Shabir Mahdi mengatakan penyelidikan terperinci tentang wabah di Eropa termasuk menentukan siapa pasien pertama sekarang sangat penting.

"Kita harus benar-benar memahami bagaimana ini pertama kali dimulai dan mengapa virus sekarang mendapatkan daya tarik. Di Afrika, wabah cacar monyet sangat terkendali dan jarang terjadi.  Jika itu sekarang berubah, kita benar-benar perlu memahami alasannya," kata dia.

Diketahui, Nigeria melaporkan sekitar 3.000 kasus cacar monyet per tahun. Wabah biasanya terjadi di daerah pedesaan, ketika orang memiliki kontak dekat dengan tikus dan tupai yang terinfeksi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa merekomendasikan semua kasus yang dicurigai diisolasi dan bahwa kontak berisiko tinggi ditawarkan vaksin cacar.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA