Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Tahanan Palestina dalam Kondisi Kritis Akibat Mogok Makan 77 Hari 

Kamis 19 May 2022 16:42 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah

Salah seorang tahanan Palestina di penjara Israel (ilustrasi). Tahanan Palestina Khalil Awawda mulai mogok makan sejak 3 Maret 2022 lalu

Salah seorang tahanan Palestina di penjara Israel (ilustrasi). Tahanan Palestina Khalil Awawda mulai mogok makan sejak 3 Maret 2022 lalu

Foto: Presstv.ir/ca
Tahanan Palestina Khalil Awawda mulai mogok makan sejak 3 Maret 2022 lalu

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM — Seorang tahanan Palestina yang melakukan mogok makan menghadapi penurunan kesehatan yang serius di sebuah klinik medis penjara Israel. Dia telah melakukan mogok makan selama 77 hari.

Tahanan tersebut adalah Khalil Awawda, seorang pria Palestina dari kota Hebron di Tepi Barat. Dia pertama kali mengumumkan mogok makan pada 3 Maret untuk memprotes penahanan administratifnya. 

Baca Juga

“Kesehatan Awawda sejak itu menurun,” kata Klub Tahanan Palestina (PPC) dilansir dari Alaraby, Kamis (19/5/2022). 

Dia telah kehilangan kendali atas tubuhnya, menghadapi kesulitan berbicara, memiliki penglihatan dan konsentrasi yang buruk, sakit parah pada kepala dan anggota badan, dan juga menderita kekurusan dan kelemahan.

“Selama 40 hari yang lalu, administrasi penjara tidak memberinya pakaian baru sehingga dia bisa menggantinya dan tidak mengizinkannya mandi, dan dia masih mengenakan pakaian yang sama,” kata PPC.

Kelompok itu mengatakan pihak berwenang Israel memindahkan tahanan ke rumah sakit sipil sebelum kemudian mengembalikannya ke klinik penjara Ramla hanya beberapa jam kemudian, karena dugaan penolakannya untuk melakukan pemeriksaan medis.

Administrasi telah menolak untuk membawa dia ke rumah sakit, mengklaim bahwa tiada ada ancaman langsung terhadap nyawanya.

Awawda telah ditangkap lima kali, insiden terbaru adalah pada Desember 2021. Tiga kali, dia berada di bawah penahanan administratif.

Dalal Awawda, istri Khalil, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi kesehatan suaminya, terutama karena penanganan yang kurang tepat.   "Administrasi penjara melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap dia dan semua tahanan," kata ibu empat anak itu.

"Israel telah melarang anak-anak saya untuk tinggal bersama ayah mereka selama bertahun-tahun. Namun, itu tidak berhenti di situ. Otoritas penjara ingin membunuh suami saya secara perlahan dengan mengabaikan penyakitnya dan merampas perawatannya,” tuturnya.

Awawda meminta Otoritas Palestina dan masyarakat internasional untuk menekan Israel untuk menemukan solusi yang adil bagi ribuan tahanan di tahanan Israel, mendesak pembebasan mendesak mereka. 

Menurut angka PPC, ada 4.600 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, 500 di antaranya menjalani perintah penahanan administratif, tanpa tuduhan atau pengadilan.

 

 

Sumber: alaraby  

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA