Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

80 Persen Anak Perempuan Afghanistan Putus Sekolah

Kamis 19 May 2022 13:15 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah

Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9). 80 Persen Anak Perempuan Afghanistan Putus Sekolah

Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9). 80 Persen Anak Perempuan Afghanistan Putus Sekolah

Foto: AP/Felipe Dana
Taliban menutup sekolah menengah untuk anak perempuan sejak mereka merebut kekuasaan.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Sebuah analisis dilakukan oleh Save the Children dan UNICEF mengungkapkan sekitar 850 ribu gadis sekolah menengah di Afghanistan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Banyak dari mereka yang terluka dan depresi karena pemerintahnya melarang mereka mengakses hak atas pendidikan.

Dilansir dari Al Araby, Kamis (19/5/2022), hampir 80 persen anak perempuan ditolak haknya atas pendidikan di provinsi-provinsi di Afghanistan. Taliban menutup sekolah menengah untuk anak perempuan sejak mereka merebut kekuasaan pada Agustus tahun lalu.

Baca Juga

Pemerintah Taliban sempat membuka sekolah untuk pertama kali pada akhir Maret lalu, tapi kemudian segera ditutup tanpa ada penjelasan secara rinci. Keputusan mengejutkan itu terjadi tak lama setelah pertemuan rahasia para pemimpin kelompok itu di kota Kandahar, pusat kekuatan de facto Taliban. Para pejabat terus mengklaim pendidikan anak perempuan harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

“Anak-anak perempuan benar-benar hancur ketika mereka tiba di kelas, bersemangat untuk tahun ajaran baru, (laku tiba-tiba) disuruh pulang,” kata Penjabat Direktur Regional Asia Save the Children Afghanistan, Olivier Franchi.

“Pendidikan adalah urat nadi bagi semua anak, terutama anak perempuan. Tanpa itu, mereka berada pada peningkatan risiko kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi, termasuk pernikahan dini. Tidak ada masalah administrasi, logistik atau lainnya yang mungkin dapat membenarkan kelanjutan kebijakan yang menolak akses anak perempuan ke pendidikan mereka,” kata dia.

Meskipun menjanjikan versi yang lebih lembut dari rezim keras mereka sebelumnya, dari 1996 hingga 2001. Tetapi fakta di lapangan, pembatasan Taliban versi rezim keras sebelumnya mulai merangsek masuk.

Wanita secara efektif dikucilkan dari sebagian besar pekerjaan pemerintah, dan diperintahkan berpakaian sesuai dengan interpretasi ketat Alquran versi Taliban. Taliban juga memerintahkan maskapai penerbangan Afghanistan menghentikan wanita dari naik pesawat kecuali mereka dikawal oleh mahram atau kerabat pria dewasa. Taliban juga melarang wanita melakukan perjalanan solo antarkota.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA