Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Pengidap Diabetes Harus Hati-Hati, Buah dan Sayur Ini Mengandung Indeks Glikemik Tinggi

Rabu 18 May 2022 00:43 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda

Sayur dan buah (Ilustrasi). Sayuran dan buah juga ada yang memiliki indeks glikemik tinggi. Pengidap diabetes harus berhati-hati dalam mengonsumsinya.

Sayur dan buah (Ilustrasi). Sayuran dan buah juga ada yang memiliki indeks glikemik tinggi. Pengidap diabetes harus berhati-hati dalam mengonsumsinya.

Foto: Republika/Prayogi
Sayuran dan buah tertentu ada yang indeks glikemiknya tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diet memang dapat meniru efek insulin dengan memperlambat kenaikan gula darah pada pengidap diabetes, tetapi ada beberapa buah yang diam-diam menghadirkan risiko kesehatan. Selain buah, sayuran juga ada yang mesti hati-hati ketika dikonsumsi diabetesi.

Sayuran merupakan makanan pokok yang sehat dan seimbang, jadi jangan pernah berhenti mengonsumsinya. Akan tetapi ada baiknya mengurangi asupan jenis sayuran tertentu.

Baca Juga

Sayuran terlarang adalah sayuran yang berperingkat tinggi pada indeks glikemik, yang memberi peringkat makanan tergantung pada tingkat di mana tubuh memecahnya untuk membentuk glukosa (gula darah).

"Makanan indeks glikemik tinggi terurai dengan sangat cepat hingga menyebabkan kadar glukosa darah meningkat tajam," tulis Diabetes.co.uk.

Sayuran yang indeks glikemiknya tinggi antara lain wortel, kentang, parsnip, bit, dan jagung manis. Diabetes.co.uk mengungkapkan, buah yang indeks glikemiknya rendah, yakni beri, plum, kiwi, dan jeruk bali.

Risiko yang ditimbulkan oleh makanan dengan indeks glikemik tinggi tidak berhenti pada lonjakan gula darah. Seperti yang dijelaskan oleh Diabetes.co.uk, bagi mereka yang memproduksi insulin sendiri, makanan berindeks glikemik tinggi dapat memaksa tubuh untuk mencoba memproduksi lonjakan insulin.

Hal itu untuk melawan karbohidrat yang bekerja cepat, dan konsekuensi umum dari lonjakan insulin yang dipaksakan adalah rasa lapar di dalam tubuh saat dua hingga tiga jam setelah mengonsumsinya. Ini dapat memicu pelaku diet ingin makan lebih banyak lagi.

"Bagi penderita diabetes, ini bisa sangat berbahaya karena kemampuan tubuh untuk mengontrol kadar glukosa darah berkurang atau tidak ada sama sekali," tulis mereka.

Namun, gambarannya sedikit lebih rumit daripada sekadar mengklasifikasikan makanan sebagai berindeks glikemik tinggi dan rendah. Seperti yang dijelaskan Layanan Kesehatan Inggris (NHS), bahwa makanan dengan indeks glikemik tinggi belum tentu tidak sehat dan tidak semua makanan dengan indeks glikemik rendah itu sehat.

Misalnya, semangka dan parsnip adalah makanan dengan indeks glikemik tinggi, sedangkan kue coklat memiliki nilai indeks glikemik yang lebih rendah. Demikian juga makanan yang mengandung atau dimasak dengan lemak dan protein memperlambat penyerapan karbohidrat, itu semua rendah indeks glikemiknya.

Keripik, misalnya, memiliki indeks glikemik lebih rendah daripada kentang yang dimasak tanpa lemak. Namun, keripik tinggi lemak dan harus dimakan dalam jumlah sedang.

"Jika kita hanya makan makanan dengan indeks glikemik rendah, diet kita mungkin tidak seimbang dan akan tinggi lemak," kata NHS.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA