Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Dubes RI: UAS Bukan Dideportasi, Tapi tak Diberikan Izin Masuk Singapura

Selasa 17 May 2022 11:48 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus raharjo

Ustaz Abdul Somad (UAS) saat di dalam ruangan yang diberi keimigrasian Singapura, Senin 16 Mei 2022.

Ustaz Abdul Somad (UAS) saat di dalam ruangan yang diberi keimigrasian Singapura, Senin 16 Mei 2022.

Foto: DOK IST
UAS dianggap tidak memenuhi kriteria yang berlaku di Singapura.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Singapura, Suryopratomo atau yang akrab dipanggil Tommy, angkat bicara soal kasus penolakan Ustaz Abdul Somad (UAS) masuk ke Singapura. Tommy mengklarifikasi bahwa UAS bukan dideportasi, melainkan tidak dapat izin untuk masuk ke negeri Singa itu.

"UAS tidak dideportasi, tetapi tidak diberikan izin masuk Singapore," ujar Tommy saat dikonfirmasi, Selasa (17/5/2022).

Baca Juga

Menurut Tommy, Immigration and Checkpoint Authority (ICA) tidak memberikan izin masuk karena UAS dianggap tidak memenuhi kriteria yang berlaku di Singapura.

"Pihak ICA menyampaikan tidak memberikan izin masuk atau not to land karena tidak memenuhi kriteria yang berlaku di Singapore," kata Tommy.

Sebelumnya diberitakan, UAS mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan saat hendak melakukan dakwah di Singapura, Senin (16/5/2022) siang. Kepada Republika.co.id, mubaligh tersebut menuturkan dirinya sempat dimasukkan dalam ruangan sempit.

Otoritas keimigrasian negara tersebut kemudian memintanya kembali ke Indonesia. “Tidak ada wawancara. Tidak ada (keimigrasian Singapura) meminta penjelasan. Tidak bisa menjelaskan ke siapa,” ujar UAS saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (17/5/2022) pagi.

Menurut alumnus Universitas al-Azhar Mesir itu, dirinya dan rombongannya telah memenuhi semua persyaratan untuk dapat memasuki Singapura. Bahkan, kata dia, rute perjalanannya di Singapura sudah dijelaskan semua.

“ICA sudah keluarkan arrival card. Semua rute perjalanan sudah jelas,” kata UAS.

UAS pun tidak habis pikir, mengapa perlakuan terhadap seorang intelektual Muslimin demikian. “Kami bukan teroris dan lain-lain. Jika demikian perlakuan mereka terhadap orang-orang terdidik, apalagi terhadap WNI lain,” ujar dia.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA