Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Kementan Diminta Segera Antisipasi Penyakit Mulut dan Kuku pada Sapi

Senin 16 May 2022 21:39 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Gita Amanda

Peternak memberikan madu propolis pada hewan ternaknya di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Senin (16/5/2022). Para peternak kambing setempat mengantisipasi penyebaran serangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak dengan memberikan obat herbal seperti madu propolis kepada hewan ternaknya setiap hari.

Peternak memberikan madu propolis pada hewan ternaknya di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Senin (16/5/2022). Para peternak kambing setempat mengantisipasi penyebaran serangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak dengan memberikan obat herbal seperti madu propolis kepada hewan ternaknya setiap hari.

Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas
Kementan diharapkan langsung mengambil langkah antisipasi untuk mencegah PMK

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Ni'am Sholeh meminta Kementerian Pertanian (Kementan) untuk segera menindaklanjuti persoalan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Namun dia mengingatkan, upaya tersebut dilakukan tanpa membuat masyarakat panik.

"Sebaiknya Kementan langsung mengambil langkah antisipasi untuk mencegah dan menanggulangi dengan langkah aksi, tanpa harus menimbulkan kepanikan masyarakat," tutur dia kepada Republika, Senin (16/5/2022).

Baca Juga

Menurut Kiai Asrorun, hewan ternak sapi perlu diberikan perhatian khusus supaya tidak semakin banyak yang terjangkit PMK. "Pemastian pemeriksaan kesehatan hewan, khususnya sapi, perlu segera dilakukan dan ditingkatkan intensitasnya," ungkapnya.

Di Jawa Barat, misalnya, telah ditemukan sejumlah hewan ternak yang terjangkit PMK. Kasus terbanyak terjadi pada sapi. Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat pada 7 Mei lalu bersama Tim Balai Veteriner Subang mengambil sampel terduga PMK di Garut. Selain di Garut, sampel juga diambil di lokasi terduga di Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Banjar.

Hasilnya, sejumlah sampel terkonfirmasi 100 persen positif PMK. Kasus PMK positif ditemukan di Leles, Garut, sebanyak 25 ekor sapi potong, tiga ekor sapi perah, dan 5 ekor domba. Sementara, di Tasikmalaya, terdapat 18 sampel sapi yang dinyatakan positif PMK, dan 11 ekor sapi di Kota Banjar dinyatakan positif 100 persen PMK.

DKPP Jawa Barat telah mengeluarkan surat edaran pada kepala dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di kabupaten/kota Jawa Barat untuk mewaspadai penyebaran PMK. Sejumlah strategi juga sudah disiapkan. Misalnya rencana penutupan jalur pengeluaran ternak dan pasar ternak, penutupan pemasukan media pembawa, dan melakukan pengawasan lalu lintas ternak terutama di dua check point Losari dan Banjar.

Penelusuran dan pencegahan juga aktif dilakukan di sejumlah titik sekaligus memperkuat informasi dan sosialisasi terkait PMK hingga vaksinasi dan pengobatan suportif. Strategi lainnya ialah biosecurity dan dekontaminasi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA