Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Erick Sebut 5 Tantangan Indonesia untuk Raih Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi

Ahad 15 May 2022 17:52 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menteri BUMN Erick Thohir dalam kuliah umum di Universitas PGRI Banyuwangi, Jawa Timur, Ahad (15/5). Indonesia tengah menghadapi lima tantangan ke depan, mulai dari antisipasi terjadinya pandemi kembali, perubahan iklim yang begitu ekstrem, disrupsi digital, bonus demografi, hingga geopolitik.

Menteri BUMN Erick Thohir dalam kuliah umum di Universitas PGRI Banyuwangi, Jawa Timur, Ahad (15/5). Indonesia tengah menghadapi lima tantangan ke depan, mulai dari antisipasi terjadinya pandemi kembali, perubahan iklim yang begitu ekstrem, disrupsi digital, bonus demografi, hingga geopolitik.

Foto: Kementerian BUMN
Erick sebut Indonesia ciptakan pertumbuhan berlandaskan knowledge based economy

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUWANGI -- Indonesia sempat dipandang sebelah mata oleh dunia dalam penanganan pandemi. Namun nyatanya, Indonesia justru memutarbalikkan persepsi negatif dengan menjadi salah satu negara dengan penanganan pandemi terbaik dunia.

"Setelah berhasil menangani pandemi, pertumbuhan ekonomi kita lima persen, salah satu tertinggi di dunia. AS, Cina, kalah. Ini luar biasa. Yang tidak percaya Indonesia akan tumbuh, kita buktikan sampai 2045, ekonomi kita akan terus tumbuh," ujar Erick saat mengisi kuliah umum di Universitas PGRI Banyuwangi, Jawa Timur, Ahad (15/5).

Baca Juga

Namun begitu, Erick menilai pencapaian tersebut tak membuat terlena mengingat Indonesia tengah menghadapi lima tantangan ke depan, mulai dari antisipasi terjadinya pandemi kembali, perubahan iklim yang begitu ekstrem, disrupsi digital, bonus demografi, hingga geopolitik.

Erick menyebut era disrupsi digital membuat banyak jenis pekerjaan hilang dan mulai tergantikan oleh jenis pekerjaan yang berbasis digital seperti data scientist, artificial intelligence (AI) specialist, apps developer, dan digital marketing.

Erick mengatakan Indonesia kini dihadapkan pada perubahan dengan hadirnya gelombang pertama disrupsi digital seperti marketplace saja babak belur, lalu gelombang kedua, apakah namanya Tiktok hingga Instagram, lalu gelombang ketiga ada Metaverse, NFT, Blockchain.

"Kalau kita sebagai bangsa tidak berubah, akan terus tertinggal. SDA dan market besar dipakai untuk pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bangsa lain. Banyak generasi muda kita main gim daring, yang buat orang lain, tidak salah, kita tidak boleh antiasing tapi juga harus punya nasionalisme yang membuat kita tidak kalah dari negara lain," ucap Erick.

Oleh karena itu, Erick melakukan transformasi besar pada Telkom untuk fokus dalam membangun infrastruktur digital dan B to B seperti, pembangunan menara, data center, hingga cloud, sementara Telkomsel akan fokus ke B to C sebagai agregator atau penyambung untuk para Games Finance, Games Lokal, dan kreator konten.

"Kita harus membangun ekosistem digital, makanya infrastruktur digital yang kita buat jangan sampai diisi asing, kalau bisa 50 sampai 70 persen diisi kita. Jangan terjebak ekosistem Cina, AS, Timteng, kita punya market yang sangat besar, yang namanya ekonomi digital kita akan nilainya Rp 4.500 triliun, pertumbuhannya dibandingkan APBN, APBD delapan kali. Siapa yang mau mengisinya?" tanya Erick.

Erick menilai Indonesia tengah fokus dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berlandaskan knowledge based economy yang mana pertumbuhan ekonomi berasal dari sumber daya manusia (SDM), bukan lagi tergantung pada sumber daya alam (SDA) atau market yang besar. 

Erick menyebut Indonesia memerlukan 17 juta tenaga kerja yang melek teknologi. Oleh karena itu, Erick menegaskan komitmen BUMN dalam bersinergi dengan universitas guna menciptakan link and match agar sesuai dengan kebutuhan industri. 

"Saya ke universitas-universitas, ketemu rektor, ketemu mahasiswa, ayo bangun ekosistem yang link and match antara lulusan dan industri, percuma luluskan ribuan mahasiwa tapi tidak ada lapangan kerja, mahasiwa jangan terjebak sekadar kuliah tapi tidak melihat apa lapangan kerja yang terbuka di masa depan," kata Erick menambahkan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA