Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Digital versus Conventional Entrepreneurial Marketing di Indonesia

Senin 16 May 2022 21:17 WIB

Rep: Editor (swa.co.id)/ Red: Editor (swa.co.id)

Dr. Dita Amanah, MBA, Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

Dr. Dita Amanah, MBA, Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

Digital versus Conventional Entrepreneurial Marketing di Indonesia

Dr. Dita Amanah, MBA, Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

Persaingan usaha di berbagai sektor semakin hebat dan sulit saat ini. Penerapan teknologi sebagai salah satu inovasi oleh pelaku usaha sudah dimulai atau bahkan sudah banyak yang menjalankannya. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi fokus pembahasan pelaku usaha beserta timnya yang tujuan akhirnya adalah peningkatan penjualan dan pendapatan usaha. Strategi-strategi baru di era digital harus diciptakan agar usaha yang dijalankan lebih unggul dibandingkan dengan pesaing. Perusahaan yang mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terbukti mencapai kinerja yang lebih baik dibanding perusahaan yang belum atau tidak mengikutinya.

Teknologi yang sangat berkembang dewasa ini telah banyak digunakan dalam aktivitas usaha dan menjadi strategi keberhasilan karena pelaku usaha sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai strategi bisnis digital yang tentu saja memiliki perbedaan dengan strategi bisnis konvensional. Di masa depan, aplikasi dalam entrepreneurial marketing diperkirakan akan semakin meluas. Oleh karena itu, setiap usaha termasuk usaha mikro, kecil dan menengah perlu mempertimbangkan digitalisasi pemasaran produknya dalam batas-batas kesesuaian budaya dan proses yang dimiliki Indonesia.

Entrepreneurial marketing merupakan suatu konsep yang menggabungkan konsep entrepreneurial dan konsep marketing, sehingga penggabungan konsep ini mengartikan adanya semangat pelaku usaha dalam mengembangkan usaha dengan memberikan nilai-nilai yang lebih kepada pelanggan melalui kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan peluang serta proaktif. Pelaku usaha harus dapat menentukan sikap dan program-program yang akan dilakukannya di masa akan datang. Setiap usaha perlu melakukan changing management untuk dapat menyesuaikan dengan perubahan lingkungan yang sifatnya dinamis, terlebih saat ini yang semuanya sudah mulai beralih kepada digital.

Era digital memerlukan orang-orang yang menguasai teknologi, tidak terkecuali para pelaku usaha baik mikro, kecil dan menengah. Entrepreneur saat ini tidak saja harus mampu melihat peluang namun wajib menguasai teknologi. Keadaan ini sebenarnya menguntungkan bagi pelaku usaha, karena dengan perkembangan pesat teknologi dewasa ini dan dengan pemanfaatannya secara bijak, mereka mendapatkan informasi yang berlimpah dan cepat serta memudahkan pemasaran produk.    

Metode promosi dan distribusi produk yang lama mungkin sebaiknya segera ditinggalkan pelaku usaha agar tidak tertinggal dengan tuntutan zaman dimana digitalisasi bisnis sudah dipraktikkan oleh para pelaku usaha yang sudah merasakan keuntungan hasil dari pemahaman berteknologi. Tercatat pada tahun 2021, sebanyak 16 juta dari 65 juta unit UMKM Indonesia sudah go digital. Terdapat peningkatan jumlah sebanyak hampir 100% sejak pandemi melanda dunia khususnya Indonesia.

Digitalisasi bisnis sangat diperlukan saat ini karena dapat membantu penerapan strategi pemasaran secara lebih terarah, dapat menganalisis pelanggan melalui program-program promosi dan dapat merumuskan strategi di masa depan berdasarkan strategi yang sedang berjalan. Oleh karena itu sekarang banyak pelaku usaha memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk memperluas jangkauan pelanggan sebagai salah satu strategi pemasaran yang mereka jalankan.

Salah satu media sosial yang paling banyak penggunanya adalah Facebook, dimana perusahaan induknya saat ini sudah berubah menjadi Meta Platforms Inc. untuk menyesuaikan dengan dunia virtual baru atau dikenal dengan istilah metaverse yang terjadi sekarang pada dunia internet tahap kedua. Dengan perubahan nama, perusahaan ini ingin mengubah citra perusahaan media sosial menjadi suatu perusahaan yang lebih luas yang sesuai dengan visinya yang menjadi perusahaan metaverse. Artinya, metaverse tidak saja mempengaruhi perusahaan besar, tetapi juga berpotensi kepada UMKM dan bahkan kepada pengguna individu.

Lalu bagaimanakah dengan UMKM lainnya di Indonesia? yang jika dilihat dari data, masih banyak lagi yang belum siap ke digitalisasi? Tentu perlu usaha dan kerja sama diantara berbagai pihak terkait baik pelaku usaha, masyarakat, akademisi dan pemerintah dalam membantu pelaku UMKM-UMKM ini untuk segera memahami teknologi beserta banyaknya manfaat yang akan mereka peroleh ketika usaha dijalankan secara digital. Mari kita dukung semua program pemerintah terkait hal ini agar para pelaku UMKM tetap semangat untuk berbenah diri menuju go digital.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan swa.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab swa.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA