Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Hujan Lebat dan Banjir di Afghanistan Tewaskan 22 Orang

Kamis 05 May 2022 20:55 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Dwi Murdaningsih

Banjir di Afghanistan. ilustrasi. Hujan lebat dan banjir di Afghanistan telah menewaskan 22 orang.

Banjir di Afghanistan. ilustrasi. Hujan lebat dan banjir di Afghanistan telah menewaskan 22 orang.

Banjir juga menghancurkan ratusan rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL - Hujan lebat dan banjir di Afghanistan telah menewaskan 22 orang, menurut pejabat manajemen bencana pada Kamis (5/5/2022). Banjir juga menghancurkan ratusan rumah dan merusak tanaman di beberapa provinsi negara yang sudah menghadapi krisis kemanusiaan itu.

"Akibat banjir dan badai di 12 provinsi, 22 orang tewas dan 40 terluka," kata kepala komunikasi dan informasi di Otoritas Manajemen Bencana Nasional Afghanistan, Hassibullah Shekhani, Kamis (5/5/2022).

Baca Juga

Pemerintah Taliban sedang menjajaki organisasi bantuan internasional untuk meminta bantuan. Taliban berjuang untuk mengatasi bencana yang telah mempengaruhi lebih dari sepertiga provinsinya.

Hujan dan banjir sangat parah melanda provinsi barat Badghis dan Faryab dan provinsi utara Baghlan. Afghanistan telah menderita kekeringan dalam beberapa tahun terakhir, diperburuk oleh perubahan iklim, dengan hasil panen yang rendah meningkatkan kekhawatiran akan kekurangan pangan yang serius.

Cuaca tak menentu kemudian telah memperburuk masalah kemiskinan yang disebabkan oleh perang selama beberapa dekade. Selain itu penurunan bantuan asing dan pembekuan aset di luar negeri setelah Taliban mengambil alih, dan pasukan pimpinan AS mundur, pada Agustus membuat derita rakyat Afghanistan semakin melepuh.

Shekhani mengatakan 500 rumah hancur, 2.000 rusak, 300 ekor ternak tewas dan sekitar 3.000 hektar tanaman rusak. Dia mengatakan Komite Internasional Palang Merah membantu dan para pejabat akan mendekati organisasi internasional lainnya untuk meminta bantuan. Komunitas internasional sedang bergulat dengan bagaimana membantu negara berpenduduk sekitar 40 juta orang tanpa menguntungkan Taliban.


 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA