Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Polisi Israel Berjaga di Kompleks Al-Aqsa

Jumat 06 May 2022 00:25 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Warga Palestina mengumpulkan batu untuk dilemparkan ke polisi Israel setelah mereka memasuki kompleks Masjid Al Aqsa, di Kota Tua Yerusalem, Jumat, 22 April 2022.

Warga Palestina mengumpulkan batu untuk dilemparkan ke polisi Israel setelah mereka memasuki kompleks Masjid Al Aqsa, di Kota Tua Yerusalem, Jumat, 22 April 2022.

Foto: AP Photo/Mahmoud Illean
Polisi Israel memastikan keamanan kunjungan Yahudi di Al Aqsa

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Polisi Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan mengusir pengunjuk rasa Palestina pada Kamis (5/5). Polisi Israel kembali berjaga setelah umat Yahudi kembali diizinkan mengakses situs suci mereka usai Ramadhan dan Idul Fitri.

Saat kunjungan dilanjutkan, puluhan warga Palestina berkumpul di kompleks Masjid Al-Aqsa. Polisi menembakkan peluru berlapis karet ke lapangan terbuka, saat beberapa warga Palestina berlindung di dalam Masjid Al-Aqsa. Polisi mengatakan, mereka menanggapi puluhan orang yang meneriakkan hasutan dan melemparkan batu.

Namun tidak seperti dalam konfrontasi sebelumnya, seorang warga Palestina mengatakan awalnya tidak ada tanda-tanda pelemparan batu. Beberapa dari mereka yang berlindung di dalam Masjid Al-Aqsa mulai melempari batu ketika polisi mulai memasuki bangunan masjid.

Kunjungan oleh sebagian besar Yahudi nasionalis dan religius dilanjutkan pada Kamis, setelah dihentikan selama 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan dan liburan Idul Fitri. Kunjungan tersebut juga merupakan Hari Kemerdekaan Israel.

Dalam beberapa hari terakhir kelompok-kelompok pinggiran telah meminta umat Yahudi untuk merayakannya dengan mengibarkan bendera Israel di kompleks Al-Aqsa.  Seruan itu diedarkan secara luas oleh warga Palestina di media sosial, bersama dengan seruan untuk menghadapi mereka yang akan mengibarkan bendera Israel.

Seorang pejabat senior Palestina yang berfungsi sebagai penghubung utama antara Otoritas Palestina dan Israel,

Hussein al-Sheikh, mengatakan, mengibarkan bendera akan menunjukkan "pengabaian yang keterlaluan” terhadap perasaan warga Palestina. Pengibaran tersebut juga menandai “kelanjutan kampanye rasis ekstremis".

Di bawah pengaturan informal yang dikenal sebagai status quo, orang Yahudi diizinkan untuk mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa, tetapi boleh beribadah.  Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah mengunjungi kompleks Al-Aqsa dalam jumlah yang terus meningkat dengan pengawalan polisi. Mereka diam-diam berdoa di kompleks Al-Aqsa, sehingga membuat orang-orang Palestina geram. Termasuk Yordania, yang merupakan penjaga Al-Aqsa. Warga Palestina telah lama khawatir bahwa Israel berencana untuk mengambil alih komplek Al-Aqsa atau membaginya.

Israel berkomitmen untuk mempertahankan status quo. Mereka justru menuduh kelompok Hamas menghasut kekerasan. Hamas mengatakan, Israel telah bermain dengan api dan menyeret kompleks Al-Aqsa ke dalam eskalasi. Bentrokan di dalam dan sekitar Al-Aqsa tahun lalu memicu perang 11 hari antara Israel dan Hamas di Gaza. Perang ini menewaskan ratusan warga Palestina.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA