Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Konflik Rusia-Ukraina Perburuk Masalah Ketahanan Pangan Global

Kamis 05 May 2022 14:39 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara selama konferensi pers bersama dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy setelah pertemuan mereka di Kyiv, Ukraina, Kamis, 28 April 2022.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara selama konferensi pers bersama dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy setelah pertemuan mereka di Kyiv, Ukraina, Kamis, 28 April 2022.

Foto: AP/Efrem Lukatsky
Konflik Rusia-Ukraina memicu lonjakan harga pangan dan energi lebih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, ABUJA – Konflik Rusia-Ukraina dinilai memperburuk masalah ketahanan pangan global. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, persoalan tersebut tak dapat diselesaikan tanpa memulihkan produksi pertanian Ukraina serta produksi pangan dan pupuk Rusia ke pasar dunia.

"Analisis kami menunjukkan bahwa perang di Ukraina hanya memperburuk keadaan, memicu krisis tiga dimensi yang menghancurkan sistem pangan, energi, dan keuangan global untuk negara-negara berkembang," kata Guterres kepada awak media selama kunjungan perdananya ke Abuja, Nigeria, Rabu (4/5/2022). 

Baca Juga

Guterres, yang akhir bulan lalu sempat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, masih berharap bisa membantu proses mediasi antara kedua negara tersebut. "Benar-benar tidak ada solusi yang benar untuk masalah ketahanan pangan global tanpa membawa kembali produksi pertanian Ukraina serta produksi pangan dan pupuk Rusia dan Belarusia ke pasar dunia meskipun perang," ucapnya.

Bulan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan, invasi Rusia ke Ukraina telah memberikan “kejutan negatif” lebih lanjut bagi wilayah Afrika sub-Sahara. Konflik antara kedua negara tersebut telah memicu lonjakan harga pangan dan energi lebih tinggi. Hal itu menempatkan orang-orang paling rentan pada risiko kelaparan.

Guterres mengungkapkan, PBB telah meminta dana tambahan sebesar 351 juta dolar AS untuk respons kemanusiaan di Nigeria. Negara tersebut harus membeli pasokan darurat kalium Kanada pada April lalu setelah tidak dapat mengimpor pupuk utama dari Rusia. Transaksi demikian tak dapat dilakukan karena adanya sanksi Barat.

Tekanan ekstra datang karena masih banyak negara yang belum pulih dari dampak pandemi Covid-19. "Kita perlu memastikan aliran makanan dan energi yang stabil melalui pasar terbuka dengan mencabut semua pembatasan ekspor yang tidak perlu, mengarahkan surplus dan cadangan kepada mereka yang membutuhkan serta menjaga harga pangan untuk mengekang volatilitas pasar," kata Guterres.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA