Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Kemenkes: Anak-Anak yang Terkena Hepatitis Sebagian Besar tak Divaksinasi

Rabu 04 May 2022 21:44 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sekretaris Jenderal Direktorat Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi memastikan vaksinasi Covid-19 bagi anak sudah terbukti memberikan perlindungan. Pernyataan ini menanggapi keterkaitan kasus Hepatitis akut di berbagai negara dengan pemberian vaksin Covid-19 pada anak.

Foto:
Pakar duga ada peran varian baru Covid-19 dan gizi buruk anak-anak di hepatitis

Dugaan ini lantaran pada kejadian Hepatitis misterius, organ yang diserang adalah liver dan anak-anak menjadi sasaran utama varian tersebut. Anak-anak menjadi rentan terinfeksi hepatitis misterius juga karena imunitas mereka mungkin buruk, status gizinya pun buruk, atau memiliki komorbid serius.

"Ingat, Long Covid-19 itu yang banyak dilaporkan juga soal Hepatitis," kata Dicky.

Oleh karena itu, perlu dilakukan mitigasi dan segera gencarkan vaksinasi anak, termasuk booster. Bagi anak di bawah usia lima tahun, meskipun belum ada vaksin Covid-19 yang eligible, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Salah satunya memastikan anak-anak ketika masuk sekolah, orang dewasa yang tinggal bersama anak usia di bawah lima tahun harus sudah mendapatkan booster. Karena, orang dewasa menjadi pelindung efektif untuk sementara waktu, sambil menunggu vaksin yang eligible bagi anak-anak bawah lima tahun.

Selain itu, perlu penguatan protokol kesehatan, infrastruktur, ventilasi, dan sirkulasi udara, apalagi di dalam konteks mudik dan arus balik. Anak-anak juga harus dipastikan pergi dengan orang-orang yang memang sudah memiliki imunitas. Tidak harus tiga dosis, setidaknya dua dosis atau dalam kondisi ketaatan prokes yang cukup.

Baca juga : Pakar: Tidak Perlu Panik dengan Penetapan Hepatitis Jadi KLB

"Sembari tingkatkan deteksi dan surveilans ini. Hepatitis ada surveilans-nya, dan juga artinya kewaspadaan di unit kesehatan," jelas Dicky.

Ia pun mengingatkan hal ini berlaku tidak hanya pada anak-anak, namun juga pada dewasa muda dan orang lanjut usia. "Karena, bila berbicara tentang Long Covid-19 memang pasca-infeksi tidak mesti lama, masa akutnya dan mediumnya menjadi harus ditingkatkan pemantauannya, sehingga bisa melakukan respons yang tepat dan cepat," tegas Dicky.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA