Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Tren Penurunan Kasus Covid-19, Epidemiolog: Masyarakat Harus Tetap Prokes

Rabu 04 May 2022 18:26 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Muhammad Fakhruddin

Tren Penurunan Kasus Covid-19, Epidemiolog: Masyarakat Harus Tetap Prokes (ilustrasi).

Tren Penurunan Kasus Covid-19, Epidemiolog: Masyarakat Harus Tetap Prokes (ilustrasi).

Foto: REPUBLIKA
Imunitas tubuh terhadap Covid-19 tidak bersifat permanen.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan, masyarakat harus tetap waspada dan tidak abai dengan protokol kesehatan selama arus balik Lebaran. Pasalnya, perjalanan mudik dan balik merupakan bentuk pergerakan yang juga membawa risiko besar penyebaaran dan lonjakan kasus Covid-19.

"Bagaimanapun perjalanan (mudik Lebaran) meningkatkan risiko penyebaran atau terpapar Covid-19. Pencegahan jangan lupa dilakukan. Jangan abai dan tetap melakukan protokol kesehatan. Situasi masih rawan, bahwa ada potensi peningkatan akibat mobilisasi jelas ada. Oleh karena itu, adanya arus mudik dan balik dengan jumlah pergerakan puluhan juta membawa risiko besar, ada potensi peningkatan, tentu iya," kata Dicky kepada Republika, Rabu (4/5/2022).

Baca Juga

Meskipun, sambung Dicky, saat ini tidak perlu melakukan tes seagresif setahun lalu lantaran imunitas yang sudah cukup baik. Namun, alangkah baiknya bila tetap melakukan sampling tes. "Jika hasil tes dari sampling tersebut ada 5 persen yang positif berarti itu buruk," tutur Dicky.

Ia pun mengingatkan imunitas tubuh terhadap COVID-19 tidak bersifat permanen. Sebelumnya, berdasarkan penelitian antibodi tubuh terhadap virus COVID-19 di akhir Maret terhadap masyarakat Jawa-Bali mencapai 99,2 persen. "Artinya tidak bisa menjamin tidak terjadi lonjakan sebab imunitas terhadap COVID-19 tidak bersifat permanen," tegas Dicky.

Permasalahannya saat ini, lanjut Dicky, masyarakat sudah semakin terlena dengan penurunan kasus dan menjadi abai dengan protokol kesehatan. Padahal capaian vaksinasi dosis penuh masih jauh di bawah 70 persen.

“Sehingga adanya penyebaran atau sirkulasi virus yang tak terkendali ini terjadi di tahun ketiga pandemi. Ini berpotensi melahirkan bukan hanya subvarian baru dari Omicron atau rekombinan Omicron tapi juga potensi varian lain,” ungkap Dicky.

Ia juga menjelaskan, varian BA.4 dan BA.5 Omicron sangat bisa memunculkan gelombang selanjutnya. Oleh karenanya, Dicky mengimbau agar masyarakat tidak larut dalam euforia lebaran di tengah kebijakan kian longgar.

"Kita harus waspada, situasi membaik iya tetapi jangan euforia apalagi arus mudik dan balik ini saat ini melibatkan puluhan juta. Semoga kita bisa melewati fase ini tanpa ada potensi perburukan," harapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA